Showing posts with label Pasukan Khusus. Show all posts
Showing posts with label Pasukan Khusus. Show all posts

Kalashnikov Luncurkan Senapan AK Terbaru untuk Unit-Unit Pasukan Khusus



Senjata ini telah dibuat khusus untuk operasi siluman pada malam hari dan sudah melalui tes pertempuran dalam unit-unit pasukan khusus.

Kalashnikov Concern telah menciptakan AK-12SP, senapan serbu terbaru untuk unit-unit pasukan khusus Rusia. Senapan itu dipamerkan selama Forum Teknis dan Militer Internasional ARMY 2021 di luar Kota Moskow pada akhir bulan ini.


Pada dasarnya, AK-12SP merupakan modifikasi teranyar senapan AK-12 yang telah diadopsi militer sejak 2018 lalu. Hingga kini, sudah ada lebih dari 100 ribu pucuk senapan AK-12 dalam gudang persenjataan tentara Rusia.


Meski begitu, unit-unit pasukan khusus ternyata membutuhkan sejumlah modifikasi pada senjata tersebut: mereka ingin kemampuan AK-12 selama operasi siluman pada malam hari ditingkatkan.


Perbedaan AK-12 klasik dan versi pasukan khusus


AK-12SP memiliki karakteristik tembakan yang lebih canggih dibandingkan dengan AK-12 yang diproduksi secara massal.


Pertama-tama, Kalashnikov mengganti popor senapan tersebut dengan popor (stock) model penembak jitu. Popor tersebut memiliki “pipi” khusus untuk penembakan berpresisi. Selain itu, popor baru ini juga dapat membantu menyesuaikan senjata yang dilengkapi dengan alat bidik berukuran besar.


Senjata ini juga telah dimodifikasi untuk pengguna kinan dan kidal karena pengontrolnya diduplikasi pada kedua sisi, khususnya kunci pengamannya.


AK-12SP juga memiliki rel baru di bagian atas dan foregrip yang sepenuhnya didesain ulang.


Kit senjata juga mencakup semua aksesori yang diperlukan untuk pertempuran malam, seperti laser, senter, dan peredam yang mudah dilepas.


Menurut Kalashnikov, ada sejumlah modifikasi desain internal yang dibuat untuk meningkatkan akurasi tembakan senjata, salah satu karakteristik yang paling banyak dikritik dari senapan serbu AK.


Kalashnikov Luncurkan Senapan AK Terbaru untuk Unit-Unit Pasukan Khusus



Senjata ini telah dibuat khusus untuk operasi siluman pada malam hari dan sudah melalui tes pertempuran dalam unit-unit pasukan khusus.

Kalashnikov Concern telah menciptakan AK-12SP, senapan serbu terbaru untuk unit-unit pasukan khusus Rusia. Senapan itu dipamerkan selama Forum Teknis dan Militer Internasional ARMY 2021 di luar Kota Moskow pada akhir bulan ini.


Pada dasarnya, AK-12SP merupakan modifikasi teranyar senapan AK-12 yang telah diadopsi militer sejak 2018 lalu. Hingga kini, sudah ada lebih dari 100 ribu pucuk senapan AK-12 dalam gudang persenjataan tentara Rusia.


Meski begitu, unit-unit pasukan khusus ternyata membutuhkan sejumlah modifikasi pada senjata tersebut: mereka ingin kemampuan AK-12 selama operasi siluman pada malam hari ditingkatkan.


Perbedaan AK-12 klasik dan versi pasukan khusus


AK-12SP memiliki karakteristik tembakan yang lebih canggih dibandingkan dengan AK-12 yang diproduksi secara massal.


Pertama-tama, Kalashnikov mengganti popor senapan tersebut dengan popor (stock) model penembak jitu. Popor tersebut memiliki “pipi” khusus untuk penembakan berpresisi. Selain itu, popor baru ini juga dapat membantu menyesuaikan senjata yang dilengkapi dengan alat bidik berukuran besar.


Senjata ini juga telah dimodifikasi untuk pengguna kinan dan kidal karena pengontrolnya diduplikasi pada kedua sisi, khususnya kunci pengamannya.


AK-12SP juga memiliki rel baru di bagian atas dan foregrip yang sepenuhnya didesain ulang.


Kit senjata juga mencakup semua aksesori yang diperlukan untuk pertempuran malam, seperti laser, senter, dan peredam yang mudah dilepas.


Menurut Kalashnikov, ada sejumlah modifikasi desain internal yang dibuat untuk meningkatkan akurasi tembakan senjata, salah satu karakteristik yang paling banyak dikritik dari senapan serbu AK.


Apa kesamaan AK-12 dan AK-12SP?


AK-12SP memiliki pegangan yang sama dengan AK-12, begitu pula segala instrumen di dalamnya yang diperlukan untuk menonaktifkan senapan.


Magazen AK-12SP juga memiliki jendela transparan yang menunjukkan jumlah amunisi yang tersisa. Meski begitu, si penembak juga dapat menggunakan magazen AK-74 standar.


Panjang AK-12SP 0,98 meter, sedangkan beratnya 3,5 kilogram tanpa amunisi. AK-12SP akan diproduksi dalam dua kaliber: 5,45 x 39 mm dan 7,62 x 39 mm. Sementara itu, sistem operasi senapan ini tetap sama seperti pendahulunya: sistem operasi gas dengan baut berputar.


Larasnya cukup panjang: 0,41 meter. Di ujungnya terdapat rem laras model baru yang dapat digunakan untuk menghancurkan jendela dan memotong kabel.


AK-12SP memiliki pegangan yang sama dengan AK-12, begitu pula segala instrumen di dalamnya yang diperlukan untuk menonaktifkan senapan.


Magazen AK-12SP juga memiliki jendela transparan yang menunjukkan jumlah amunisi yang tersisa. Meski begitu, si penembak juga dapat menggunakan magazen AK-74 standar.


Panjang AK-12SP 0,98 meter, sedangkan beratnya 3,5 kilogram tanpa amunisi. AK-12SP akan diproduksi dalam dua kaliber: 5,45 x 39 mm dan 7,62 x 39 mm. Sementara itu, sistem operasi senapan ini tetap sama seperti pendahulunya: sistem operasi gas dengan baut berputar.


Larasnya cukup panjang: 0,41 meter. Di ujungnya terdapat rem laras model baru yang dapat digunakan untuk menghancurkan jendela dan memotong kabel.

Untung Pranoto, Si Mantan Preman yang Jadi Kopassus, Berpangkat Letkol Setelah 17 Kali Naik Pangkat

Kopassus, Kisah Kopassus, Kopassus Indonesia, Pasukan Khusus

Sosoknya menjadi legenda yang unik dalam sejarah Kopassus karena latar belakangnya yang dikenal sebagai mantan preman.

Dialah Untung Pranoto seorang  mantan preman yang kini berpangkat Letnan Kolonel dan telah mengalami 17 kali naik pangkat.

Sosok mantan preman terminal ini berhasil membuktikan bahwa dirinya bisa berkarier di TNI, bahkan menjadi bagian dari pasukan baret merah kebanggaan TNI AD.

Sosok Letkol Untung Pranoto mantan preman terminal yang jadi prajurit Kopassus itu muncul dalam buku 'Kopassus Untuk Indonesia' di bab 'Pilihan Hidup: Jadi Bajingan atau Tentara'.

Awalnya, keseharian Untung adalah nongkrong di terminal bus dengan penampilannya yang garang, memakai kaos singlet, rambut panjang dan sepatunya boots koboi.

Bosan dengan kehidupannya sebagai preman, Untung kemudian ingin mengabdikan diri menjadi tentara dan melamar menjadi anggota TNI.

Tak patah arang Untung pun mendaftar lagi, kali ini dia datang dengan penampilan rapi, rambut gondrongnya juga dicukur habis. 

Pada pendaftaran kedua ini Untung lebih bersungguh-sungguh.

Dalam hatinya Ia berkata, "Kalau saya tidak jadi tentara, saya akan jadi bajingan." Ucapnya dalam hati.

Sebelum datang untuk melamar Dirinya juga meminta restu dari ibunya dan keluarganya.

Alhasil Untung pun lalu diterima menjadi anggota TNI AD dan berpangkat Prada.

Masuk menjadi tentara Untung termasuk satu diantara prajurit yang loyal dan selalu antusias mengerjakan tugas di kesatuannya.

Untung juga terkenal sebagai prajurit yang ulet dan tekun.

Karir Untung Pranoto di kesatuan Angkatan Darat terus menanjak sampai akhirnya terpilih masuk dalam satuan elite TNI, Kopassus.

Meski saat itu gaji menjadi anggota Korps Baret Merah sangat kecil, namun Ia jalani dengan ikhlas dan rasa bangga.

Usai mendapat pekerjaan tetap sebagai Kopassus, Untung kemudian melamar kekasih pujaan hatinya.

Namun, lamaran Untung tak diterima karena calon mertuanya menginginkan mahar yang jumlahnya cukup.

Untung Pranoto muda begitu kaget dan syok mendengar mahar yang diajukan calon mertuanya

Tak ingin lama tenggelam dalam kekecewaan, Untung Pranoto muda lebih memilih untuk fokus mengabdi di Kopassus.

Karier Untung dibilang cukup cemerlang dengan 17 kali naik pangkat.


Saat ditanya apa modalnya, ia selalu menjawab "Tuhan sudah berbaik hati".

Saat wawancara untuk buku Kopassus Untuk Indonesia, Untung merupakan perwira berpangkat Letnan Kolonel.

Tugas Untung di Kopassus yakni ikut mendidik para prajurit Kopassus menjadi prajurit yang loyal dan setia kepada NKRI.

Prajurit Kopassus Hadapi Ratusan Pemberontak Fretilin

Sosok prajurit Kopassus yang tak kalah melegenda adalah Pratu Suparlan, yang mengorbankan nyawanya saat menjalankan misi.

Dilansir dari laman kopassus.mil.id, kisah heroik ini terjadi di medan perang, di wilayah Timor Timur, atau sekarang bernama Timor Leste.

Peristiwa yang terjadi pada 9 Januari 1983 ini, menjadikan Pratu Suparlan seorang yang sangat diingat.

Kala itu, ia bersama timnya tengah berpatroli di wilayah Timor Timur.

Di bawah pimpinan Letnan Poniman Dasuki, Pratu Suparlan dan anggota lainnya  berpatroli di garis rawan musuh, yakni di pedalaman hutan bumi Lorosae.

Lokasi tersebut dikenal sebagai tempat bermukimnya para pengacau alias pemberontak bengis, yang dijuluki Fretilin si 'krebo hutan'.

Seperti membangunkan macan yang tertidur, satu unit anggota Kopassus ini pun dicegat oleh gerombolan pengacau.

300 orang Fretilin membawa senjata, disertai senapan serbu, dan pelontar granat.

Maka terjadilah pertempuran sengit antara Kopassus dengan Fretilin.

Jumlah anggota Kopassus yang kalah banyak dari para pengacau itu, membuat mereka kerepotan.

Ditambah lagi, cuaca ekstrem melanda di tengah sengitnya baku tembak.

Dihujani dengan tembakan yang membabibuta, semakin membuat anggota Kopassus semakin terdesak.

Parahnya lagi, mereka sudah terjepit karena di belakangnya terdapat jurang curam.

Sebanyak tujuh anggota Kopassus pun berguguran terkena serangan.

Terpaksa Letnan Poniman pun memberi perintah untuk mundur.

Melihat kondisi medannya, mereka hanya memiliki satu jalan keluar, yakni melalui celah bukit yang ada di sekitar mereka.

Sayangnya, kepungan Fretilin yang terus mendesak itu dinilai tak memungkinkan untuk pelarian mereka.

Akhirnya, Pratu Suparlan pun turun tangan.

Pratu Suparlan menawarkan diri untuk menahan serangan Fretilin.

Sementara anggota Kopassus lainnya berlarian berlindung menuju bukit.

Pratu Suparlan maju menghadapi para pemberontak ganas itu seorang diri.

Ia hanya bermodalkan senapan milik rekannya yang sudah terkapar tak bernyawa.

Penuh kepercayaan diri, Pratu Suparlan pun menyerang ratusan Fretilin itu.


Sehebat apapun tembakan Pratu Suparlan, tak akan mampu menahan ribuan peluru yang menghujaninya.

Tubuhnya pun  banyak tertembus timah panas yang ditembakkan para pemberontak.

Saking banyaknya terkena tembakan, membuat Pratu Suparlan tak bisa berdiri tegak.

Walaupun mencoba membalas tembakan menggunakan senapan di tangannya, Pratu Suparlan sudah tak sanggup melawan banyak.

Di antara hidup dan matinya Pratu Suparlan yang penuh luka ini, Fretilin malah terus menghujaninya dengan tembakan.

Di detik-detik terakhir sisa tenaganya, Pratu Suparlan pun melakukan tindakan yang tak terduga.

Ternyata masih ada satu senjata pamungkas di dalam kantong seragamnya.

Pratu Suparlan merogoh sebuah granat lalu menarik pemicunya dan dengan berani melompat di antara para Fretilin itu, sambil mengucap takbir.

Ledakan granat ini telah memborbardir puluhan Fretilin.

Sebanyak 83 Fretilin menjadi korban, bersama Pratu Suparlan.

Setelah ledakan granat itu, bala bantuan pun datang.

Ratusan Fretilin yang masih tersisa pun berhamburan diserang oleh bala bantuan TNI.

Pasukan bantuan menemukan puluhan prajurit yang gugur dari kedua belah pihak dalam pertempuran tersebut

Diantaranya adalah 7 (tujuh) orang Unit Pratu Suparlan.

Mayat Pratu Suparlan ditemukan tidak utuh tidak utuh lagi

Dari pihak Fretilin kehilangan 83 orang pasukannya, dan sisanya ditangkap hidup-hidup.

Sumber : Tribunnews

Seleksi Berat Kopassus, Sebrangi Selat Hingga Didera Siksaan Yang Dekati Batas Daya Tahan Manusia

Kopassus, Kisah Kopassus, Sejarah Kopassus, Latihan Kopassus

Anda tahu Kopassus?

Kopassus merupakan kepanjangan dari Komando Pasukan dan menjadi bagian dari Komando Utama tempur yang dimiliki oleh TNI Angkatan Darat, Indonesia.

Kemampuan khusus yang dimiliki anggota Kopassus antara lain bergerak cepat di setiap medan, menembak dengan tepat, pengintaian, dan anti teror.

Beberapa hari lalu, tepatnya pada Rabu (24/4/2019), Kopassus merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-67 di markas Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur.

Diketahui, dalam sejarah Kopassus, kesatuan baret merah TNI AD ini pernah melakukan seleksi ulang hingga membuat lebih dari 3.000 prajuritnya dinyatakan tak lulus.

Dilansir dari buku 'Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando', karya Hendro Subroto, saat itu Kopassus memang tengah melakukan perampingan organisasi besar-besaran, sehingga diadakan seleksi yang berat.

Seleksi yang berat itu membuat prajurit kopassus yang awalnya 6.400 orang, berkurang menjadi 2.500 orang. Sehingga ada sekitar 3.900 prajurit yang tak lulus.

Dalam bukunya itu, Sintong bercerita betapa beratnya seleksi yang saat itu diadakan di Sukabumi.

Seleksi itu bertujuan menilai kemampuan fisik, mental, dan kecerdasan para prajurit kopassus.

"Di antara kegiatan latihan itu, harus menyeberangi berbagai jurang untuk latihan fisik dan mental, kurang waktu untuk tidur dan istirahat selama satu minggu, serta membaca peta dan situasi untuk uji kecerdasan," tulis Hendro berdasarkan kesaksian Sintong.

Dalam berbagai seleksi itu, pasukan yang lulus hanya sekitar 2.500 orang.

Mereka yang lulus tentu saja boleh tetap mengenakan baret merah.

Sedangkan, yang tak lulus akan ditempatkan ke dalam kesatuan baret hijau, Kostrad.

Pergantian baret itu tentu saja menimbulkan protes dari mereka yang harus mengganti baret merah ke hijau.

Satu bentuk protesnya adalah melepaskan sejumlah tembakan.

"Mereka merasa masuk TNI karena ingin menjadi anggota Korps Baret Merah, dan tidak bisa menerima kenyataan harus melepaskan baret merah di samping sudah bersumpah setia untuk menjadi pasukan komando," tulis Hendro yang menirukan kembali kesaksian Sintong.

Sintong pun menilai mereka yang protes melalui pelepasan tembakan memang sudah tak pantas di Kopassus.

Tindakan itu sudah melanggar disiplin militer yang patuh, dan taat pada pimpinan.

Oleh karena itu, Sintong pun meminta Polisi Militer AD untuk menanganinya.

Meski demikian, upacara pergantian baret pun pada akhirnya tetap dilakukan.

Upacara tersebut dilakukan di Kariango, sekitar 23 kilometer dari Makassar.

Mereka yang tak lulus ujian tersebut berdiri tegak dalam barisan.

"Sebelum upacara dimulai mereka sudah memasukkan baret hijau ke dada di bagian dalam kemeja," tulis Hendro berdasarkan pengakuan Sintong.

Selanjutnya terdengar aba-aba pergantian baret.

Mereka serentak menunduk, mengambil baret hijau dari kemejanya, lalu mengenakannya ke kepalanya, dan memasukkan baret merah ke kemejanya.

Menurut Sintong, saat itu suasana sangat mengharukan dan beberapa anggota meneteskan air mata.

"Sintong merasa sangat terharu menyaksikan upacara itu.”

“Ia mencatat di antara mereka yang berganti baret itu ada perwira berpangkat kolonel, letkol, dan mayor, walaupun sebenarnya mereka lebih suka tetap di baret merah,"tulis Hendro.


Sumber : Tribunnews

Inilah Latihan Khusus Pasukan Baret Merah yang sangat berat

Kopassus, TNI AD, Latihan Kopassus, Latihan Berat Kopassus, Kisah Kopassus
Ilustrasi Kopassus

Mengenal lebih dalam pasukan kopassus, mungkin banyak orang bertanya-tanya seperti apa latihan para prajurit baret merah ini

Sebagai pasukan khusus, tentunya latihan prajurit Kopassus agak 'berbeda' dan memang dilatih secara khusus di beberapa bidang tertentu.

Latihan prajurit Kopassus sempat diceritakan oleh mantan Kepala Staf TNI AD Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo dalam bukunya yang berjudul 'Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan'

Dalam buku biografinya, Pramono Edhie Wibowo yang juga pernah bertugas di krops baret merah itu menceritakan latihan terberat prajurit Kopassus sudah menanti saat sampai di Cilacap.

Ini merupakan latihan tahap ketiga yang disebut latihan Tahap Rawa Laut, calon prajurit komando berinfliltrasi melalui rawa laut.

Di sini, materi latihan meliputi navigasi Laut, Survival laut, Pelolosan, Renang ponco dan pendaratan menggunakan perahu karet.

Para prajurit Kopassus harus mampu berenang melintasi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.

“Latihan di Nusakambangan merupakan latihan tahap akhir, oleh karena itu ada yang menyebutnya sebagai hell week atau minggu neraka. Yang paling berat, materi latihan ‘pelolosan’ dan ‘kamp tawanan’,” tulis Pramono Edhie Wibowo dalam bukunya

Dalam latihan itu, para calon prajurit Kopassus dilepas tanpa bekal pada pagi hari, dan paling lambat pukul 10 malam sudah harus sampai di suatu titik tertentu.

Selama “pelolosan”, calon prajurit Kopassus harus menghindari segala macam rintangan alam maupun tembakan dari musuh yang mengejar.

Dalam pelolosan itu, kalau ada prajurit yang tertangkap maka berarti itu merupakan 'neraka' baginya karena dia akan diinterogasi seperti dalam perang.

Para pelatih yang berperan sebagai musuh akan menyiksa prajurit malang itu untuk mendapatkan informasi.

Dalam kondisi seperti itu, para prajurit Kopassus harus mampu mengatasi penderitaan, tidak boleh membocorkan informasi yang dimilikinya.

Untuk siswa yang tidak tertangkap bukan berarti mereka lolos dari neraka.

Pada akhirnya, mereka pun harus kembali ke kamp untuk menjalani siksaan.

Selama tiga hari pra prajurit Kopassus menjalani latihan di kamp tawanan.

Dalam kamp tawanan ini semua prajurit Kopassus akan menjalani siksaan fisik yang nyaris mendekati daya tahan manusia.

“Dalam Konvensi Jenewa, tawanan perang dilarang disiksa. Namun, para calon prajurit Komando itu dilatih untuk menghadapi hal terburuk di medan operasi. Sehingga bila suatu saat seorang prajurit komando di perlakukan tidak manusiawi oleh musuh yang melanggar konvensi Jenewa, mereka sudah siap menghadapinya,” tulis Pramono Edhie Wibowo.

Beratnya persyaratan untuk menjadi prajurit kopassus dapat dilihat dari standar calon untuk bisa mengikuti pelatihan.

Nilai standar fisik untuk prajurit nonkomando adalah 61, namun harus mengikuti tes prajurit komando, nilainya minimal harus 70.

Begitu juga kemampuan menembak dan berenang nonstop sejauh 2000 meter.

“Hanya mereka yang memiliki mental baja yang mampu melalui pelatihan komando. Peserta yang gagal akan dikembalikan ke kesatuan Awal untuk kembali bertugas sebagai Prajurit biasa,” tutup mantan Danjen Kopassus ini.

Terungkap Seleksi Berat Kopassus yang Bikin 3900 Prajurit Tak Lulus, Ada yang Protes & Menembak

Kopassus, Baret Merah, Kopassus Indonesia, Latihan Kopassus,

Dalam sejarah Kopassus, kesatuan baret merah TNI AD ini pernah melakukan seleksi ulang hingga membuat lebih dari 3000 prajuritnya dinyatakan tak lulus.

Dilansir dari buku 'Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando', karya Hendro Subroto, saat itu Kopassus memang tengah melakukan perampingan organisasi besar-besaran, sehingga diadakan seleksi yang berat.

Seleksi yang berat itu membuat prajurit kopassus yang awalnya 6.400 orang, berkurang menjadi 2500 orang. Sehingga ada sekitar 3900 prajurit yang tak lulus.

Dalam bukunya itu, Sintong Panjaitan bercerita betapa beratnya seleksi yang saat itu diadakan di Sukabumi.

Seleksi itu bertujuan menilai kemampuan fisik, mental, dan kecerdasan para prajurit kopassus.

"Di antara kegiatan latihan itu, harus menyeberangi berbagai jurang untuk latihan fisik dan mental, kurang waktu untuk tidur dan istirahat selama satu minggu, serta membaca peta dan situasi untuk uji kecerdasan," tulis Hendro berdasarkan kesaksian Sintong.

Dalam berbagai seleksi itu, pasukan yang lulus hanya sekitar 2.500 orang.

Mereka yang lulus tentu saja boleh tetap mengenakan baret merah.

Sedangkan, yang tak lulus akan ditempatkan ke dalam kesatuan baret hijau, Kostrad.

Pergantian baret itu tentu saja menimbulkan protes dari mereka yang harus mengganti baret merah ke hijau.

Satu bentuk protesnya adalah melepaskan sejumlah tembakan.

"Mereka merasa masuk TNI karena ingin menjadi anggota Korps Baret Merah, dan tidak bisa menerima kenyataan harus melepaskan baret merah di samping sudah bersumpah setia untuk menjadi pasukan komando," tulis Hendro yang menirukan kembali kesaksian Sintong Panjaitan.

Kopassus, Baret Merah, Kopassus Indonesia, Latihan Kopassus,
Pasukan RIDER KOSTRAD

Sintong Panjaitan pun menilai mereka yang protes melalui pelepasan tembakan memang sudah tak pantas di Kopassus.

Tindakan itu sudah melanggar disiplin militer yang patuh, dan taat pada pimpinan.

Oleh karena itu, Sintong Panjaitan meminta Polisi Militer AD untuk menanganinya.

Meski demikian, upacara pergantian baret pun pada akhirnya tetap dilakukan.

Upacara tersebut dilakukan di Kariango, sekitar 23 kilometer dari Makassar.

Mereka yang tak lulus ujian tersebut berdiri tegak dalam barisan.

"Sebelum upacara dimulai mereka sudah memasukkan baret hijau ke dada di bagian dalam kemeja," tulis Hendro berdasarkan pengakuan Sintong Panjaitan.

Selanjutnya terdengar aba-aba pergantian baret.

Mereka serentak menunduk, mengambil baret hijau dari kemejanya, lalu mengenakannya ke kepalanya, dan memasukkan baret merah ke kemejanya.

Menurut Sintong Panjaitan, saat itu suasana sangat mengharukan dan beberapa anggota meneteskan air mata.

"Sintong merasa sangat terharu menyaksikan upacara itu. Ia mencatat di antara mereka yang berganti baret itu ada perwira berpangkat kolonel, letkol, dan mayor, walaupun sebenarnya mereka lebih suka tetap di baret merah,"tulis Hendro.

Latihan Khusus Pasukan Baret Merah

Mengenal lebih dalam pasukan kopassus, mungkin banyak orang bertanya-tanya seperti apa latihan para prajurit baret merah ini

Sebagai pasukan khusus, tentunya latihan prajurit Kopassus agak 'berbeda' dan memang dilatih secara khusus di beberapa bidang tertentu.

Latihan prajurit Kopassus sempat diceritakan oleh mantan Kepala Staf TNI AD Jenderal (Purn) Pramono Edhie Wibowo dalam bukunya yang berjudul 'Pramono Edhie Wibowo dan Cetak Biru Indonesia ke Depan'

Kopassus, Baret Merah, Kopassus Indonesia, Latihan Kopassus,
Ilustrasi Kopassus

Dalam buku biografinya, Pramono Edhie Wibowo yang juga pernah bertugas di krops baret merah itu menceritakan latihan terberat prajurit Kopassus sudah menanti saat sampai di Cilacap.

Ini merupakan latihan tahap ketiga yang disebut latihan Tahap Rawa Laut, calon prajurit komando berinfliltrasi melalui rawa laut.

Di sini, materi latihan meliputi navigasi Laut, Survival laut, Pelolosan, Renang ponco dan pendaratan menggunakan perahu karet.

Para prajurit Kopassus harus mampu berenang melintasi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.

“Latihan di Nusakambangan merupakan latihan tahap akhir, oleh karena itu ada yang menyebutnya sebagai hell week atau minggu neraka. Yang paling berat, materi latihan ‘pelolosan’ dan ‘kamp tawanan’,” tulis Pramono Edhie Wibowo dalam bukunya

Dalam latihan itu, para calon prajurit Kopassus dilepas tanpa bekal pada pagi hari, dan paling lambat pukul 10 malam sudah harus sampai di suatu titik tertentu.

Selama “pelolosan”, calon prajurit Kopassus harus menghindari segala macam rintangan alam maupun tembakan dari musuh yang mengejar.

Dalam pelolosan itu, kalau ada prajurit yang tertangkap maka berarti itu merupakan 'neraka' baginya karena dia akan diinterogasi seperti dalam perang.

Para pelatih yang berperan sebagai musuh akan menyiksa prajurit malang itu untuk mendapatkan informasi.

Dalam kondisi seperti itu, para prajurit Kopassus harus mampu mengatasi penderitaan, tidak boleh membocorkan informasi yang dimilikinya.

Untuk siswa yang tidak tertangkap bukan berarti mereka lolos dari neraka.

Pada akhirnya, mereka pun harus kembali ke kamp untuk menjalani siksaan.

Selama tiga hari pra prajurit Kopassus menjalani latihan di kamp tawanan.

Dalam kamp tawanan ini semua prajurit Kopassus akan menjalani siksaan fisik yang nyaris mendekati daya tahan manusia.

“Dalam Konvensi Jenewa, tawanan perang dilarang disiksa. Namun, para calon prajurit Komando itu dilatih untuk menghadapi hal terburuk di medan operasi. Sehingga bila suatu saat seorang prajurit komando di perlakukan tidak manusiawi oleh musuh yang melanggar konvensi Jenewa, mereka sudah siap menghadapinya,” tulis Pramono Edhie Wibowo.

Beratnya persyaratan untuk menjadi prajurit kopassus dapat dilihat dari standar calon untuk bisa mengikuti pelatihan.

Nilai standar fisik untuk prajurit nonkomando adalah 61, namun harus mengikuti tes prajurit komando, nilainya minimal harus 70.

Begitu juga kemampuan menembak dan berenang nonstop sejauh 2000 meter.

“Hanya mereka yang memiliki mental baja yang mampu melalui pelatihan komando. Peserta yang gagal akan dikembalikan ke kesatuan Awal untuk kembali bertugas sebagai Prajurit biasa,” tutup mantan Danjen Kopassus ini.

Sumber : Tribunnews

Otak Encer Komandan Kopaska, Benda Kecil Melar Jadi Senjata Rahasia Ledakkan Kapal Musuh

Otak Encer Komandan Kopaska, Benda Kecil Melar Jadi Senjata Rahasia Ledakkan Kapal Musuh

Benda ini kecil dan melar, namun berguna saat peledakan. Ini menjadi senjata rahasia Kopaska yang efektif untuk meledakkan kepal musuh. Tak banyak orang menduga gunanya.

Peristiwa ini terjadi pada 1962, saat pemerintah RI melancarkan operasi militer bersandi Operasi Trikora.

Setiap orang tak bakal menduga benda kecil berbahan karet yang melar ini merupakan senjata rahasia Komando Pasukan Katak alias Kopaska.

Benda ini menjadi senjata rahasia pasukan elite TNI AL Kopaska, untuk meledakkan kapal-kapal Belanda saat Operasi Trikora.

Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat (Papua) dari tangan Belanda, menyisakan cerita yang menarik.

Pasukan khusus, seperti Komando Pasukan Gerak Tjepat AURI, RPKAD (TNI AD), dan Kopaska (TNI AL) juga dikerahkan untuk melakukan misi penyusupan, sabotase, intelijen, dan melancarkan perang secara gerilya.

Meski menjadi ujung tombak dalam pertempuran di laut, Kopaska ternyata menjadi pasukan yang paling akhir dikirimkan ketika APRI akan melancarkan serangan besar-besaran melalui operasi militer bersandi Jayawijaya.

Pasukan Kopaska yang diberangkatkan dari Jakarta ke Surabaya melalui misi sangat rahasia, kemudian menuju ke gudang senjata PAL (Penataran Angkatan Laut) untuk mengambil senjata dan bahan peledak serta peralatan khusus lainnya.

Terkejut karena telah digunakan

Tapi mereka terkejut, karena hampir semua senjata telah digunakan oleh pasukan lain dan sukarelawan, demi melaksanakan operasi tempur Jayawijaya.

Pasukan Kopaska yang memiliki motto Tan Hana Wighna Tan Sirna (Tidak Ada Rintangan yang Tidak Dapat Diatasi) pun tetap memiliki semangat tempur tinggi meski hanya berbekal persenjataan yang tersisa.

Persenjataan itu antara lain senapan laras panjang yang hanya efektif untuk keperluan pertempuran jarak dekat seperti Madsen M-50 buatan Denmark.

Padahal idealnya personel Kopaska bersenjata senapan serbu AK-47 buatan Rusia, mengingat demi mendukung Operasi Trikora, APRI telah membeli senapan AK-47 dalam jumlah besar.

Semula personel Kopaska juga kesulitan menemukan alat pemicu bahan peledak di gudang PT PAL karena telah dibawa oleh pasukan lain.

Tapi beruntung mereka masih menemukan beberapa gulung kabel firecord yang merupakan kabel berisikan bahan peledak berkekuatan tinggi dan bisa difungsikan sebagai pemicu bahan peledak.

Namun, dalam misi tempurnya, pasukan Kopaska juga selalu dibekali kondom dalam jumlah banyak.

Apa guna kondom itu?

Ternyata, kondom itu untuk kepentingan membungkus bahan peledak atau detonator yang akan digunakan untuk operasi bawah air (underwater demolition).

Saat itu kebetulan setiap personel Kopaska hanya mendapat pembagian kondom dalam jumlah terbatas.

Sehingga mereka sudah membayangkan misi peledakan bawah air akan mengalami kesulitan akibat kekurangan kondom itu.

Pada awal Agustus 1962, pasukan Kopaska sudah tiba di Teluk Peleng, Maluku dan bersama pasukan lainnya sudah siap melaksanakan operasi tempur habis-habisan (all out) melawan pasukan Belanda.

Misi tempur mereka bahkan bersifat one way tiket atau siap gugur dalam pertempuran demi bangsa dan negara.

Apalagi salah satu tugas mereka adalah meledakkan kapal-kapal perang Belanda menggunakan torpedo yang dikendalikan manusia dan merupakan misi berisiko sangat tinggi.

Tapi karena pasukan Belanda akhirnya merasa gentar dengan persiapan tempur APRI yang begitu lengkap.

Pasalnya APRI juga mengerahkan pesawat pembom nuklir Tu-16 buatan Rusia, Belanda akhirnya lebih memilih langkah diplomasi dan menyerahkan Irian Barat ke Indonesia melalui PBB pada 15 Agustus 1962.

Semua pasukan APRI pun kemudian ditarik ke Jakarta (Jawa) termasuk pasukan Kopaska yang kemudian kembali ke pangkalan untuk terus berlatih dan berlatih demi kesiapan menjalankan misi tempur rahasia di mana saja. (Sumber: Kopaska Spesialis Pertempuran Laut Khusus, TNI AL, 2012). (intisari online)

Aksi Kopaska dan Intai Amfibi Marinir di Tangkiang


Surabaya – Antusias masyarakat Tangkiang, Sulawesi Tengah dan sekitarnya untuk melihat dari dekat demo terjun pasukan khusus TNI AL dari helikopter, dan terjun payung sangat besar sekali.


Hal tersebut terlihat dari banyaknya masyarakat yang mengerubungi halaman Pelabuhan Tangkiang, Banggai, Sulawesi Selatan, tempat berlangsungnya gladi parsial demo prajurit TNI AL jelang Hari Nusantara, pada Sabtu 8-12-2018.

Sorak sorai, decak kagum, maupun tepuk tangan masyarakat yang menyaksikan tak henti mewarnai selama gladi tersebut berlangsung.

Umumnya mereka tidak percaya bakalan bisa menyaksikan secara langsung bagaimana para pasukan khusus turun dari helly untuk lompat ke laut, serta pasukan terjun payung yang mendarat dengan tepat di Pelabuhan Tangkiang, Banggai.


Adapun pasukan yang diterjunkan dari Helikopter Bell berjumlah 7 orang, yang merupakan anggota Satkopaska Koarmada II . Sementara dari pesawat Cassa, gabungan pasukan Kopaska dan Intai Ampibi Marinir serta tidak ketinggalan 2 Kowal yaitu Serda TTU/W. Yazella Agustin dan Serda TTU/W. Laila Noor dari Pasmar 1 Jakarta turut dalam aksi terjun payung yang seluruhnya berjumlah 17 orang penerjun tersebut.


Latihan atau gladi parsial ini dilaksanakan adalah sebagai persiapan jelang peringatan Hari Nusantara 2018, yang menurut rencana akan digelar pada tanggal 13 Desember 2018 mendatang, dan akan dihadiri oleh Presiden RI Ir. H. Joko Widodo.

TNI AL dalam hal ini sebagai yang bertanggung jawab akan pelaksanaan acara, berupaya semaksimal mungkin untuk kelancaran dan kemeriahan acara melalui atraksi Helly Water Jump dan Free Fall, juga Sailing pass beberapa KRI, dan Tari Kolosal.


Sementara itu sebagai rangkaian kegiatan Hari Nusantara 2018, panitia melalui Dansatgas Hari Nusantara 2018 Kolonel Laut (P) Andri Kristianto menerangkan, akan menggelar beberapa acara diantaranya Mancing Mania yang dilaksanakan hari Sabtu dan Minggu, Bakti Sosial Kesehatan, serta Penyuluhan. (Dispen Koarmada II).

Kopaska dan SSG Pakistan Navy Latihan Sea Thunder III


Kaskoarmada II, Laksamana Pertama TNI Ahmadi Heri Purwono, S.E., M.M., selaku Irup Upacara Pembukaan Latihan Bersama (Latma) Sea Thunder III 2018 Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL – Special Service Group (SSG) Pakistan Navy, pada Senin 26-11-2018 bertempat di Auditorium Puslatkaprang Kolat Koarmada II. Surabaya.

Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Irup, Asops kasal Laksda TNI Didik Setiyono, S.E., M.M., menyampaikan Latihan Sea Thunder III 2018 memiliki arti penting, tidak hanya bertujuan meningkatkan profesionalisme antara kedua pasukan khusus, yakni Kopaska TNI AL dan SSG Pakistan Navy, namun juga hubungan bilateral Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Pakistan.


Lebih lanjut Latma Sea Thunder II 2018 merupakan Implementasi dari hubungan bilateral antara kedua Negara dalam lingkup Pertahanan yang memiliki tujuan untuk mengembangkan kualitas, profesionalisme dan kerja sama dalam bidang Maritim.

Oleh karena itu prosedur Visit, Boarding, Search and Seizure (VBSS), Field Training dan Full Mission Profile akan di laksanakan selama latihan tersebut berlangsung dengan harapan dapat bertukar ide, informasi, maupun keahlian dan pengetahuan Militer dengan baik.

Diakhir sambutannya Asops Kasal menghimbau agar seluruh peserta latihan, baik dari SSG Pakistan Navy dan Kopaska TNI AL dapat berpartisipasi penuh dalam latihan bersama Sea Thunder untuk selalu mengutamakan Zero Accident selama dalam melaksanakan latihan.


Menurut rencana latihan bersama ini akan digelar mulai tanggal 26 November hingga 07 Desember 2018 ini melibatkan kurang lebih 80 personel dari Kopaska TNI AL, dan 12 personel SSG Pakistan Navy . Adapun daerah lokasi latihan di Puslatkaprang Koarmada II, Satkopaska Koarmada II, Lapangan Tembak Koarmada II dan Dermaga Semampir baru.

Turut Hadir dalam acara diantaranya LT CDR PN Muhammad Abrar Younas beserta perwakilan dari SGG Pakistan Navy, Irkoarmada II, para Asisten Pangkoarmada II, para Kasatker, serta para Komandan Satuan Kapal. (Dispen Koarmada II).