Showing posts with label ISIS. Show all posts
Showing posts with label ISIS. Show all posts

Tiga Senjata ISIS yang Kejutkan Tentara Rusia di Suriah


Di antara senjata -senjata yang digunakan oleh militan ISIS, ada beberapa yang sangat “eksotis”, mulai dari senapan serbu era Perang Dunia II buatan Jerman, StG 44 Sturmgewehr hingga MPADS canggih Tiongkok yang dicuri, seperti dilansir dari laman Russia Beyond.

Organisasi-organisasi teroris memperoleh senjata baik dari pasar gelap atau berupa hasil rampasan dari negara-negara dunia ketiga. Pada akhir 2018, di Taman Patriot yang berada diluar Moskow, militer Rusia membuka pameran unik dari persenjataan paling tak biasa yang diambil dari teroris selama pertempuran di Suriah.


“Inggris” di Jajaran ISIS


Selama pertempuran bersenjata pada November 2015 di provinsi Latakia, pasukan Suriah yang dibantu Rusia berhadapan dengan tank yang sangat tak biasa, sangat berbeda dengan tank kuno buatan Soviet yang digunakan para militan.

Setelah pertempuran sengit yang dimenangkan pasukan pemerintah, monster aneh itu pun diperiksa. Ternyata ia adalah tank Centurion MK 3 buatan Inggris dari awal 1950-an. Inggris merancang kendaraan ini selama Perang Dunia II.

Dan siapa yang mengira ia akan berperang di Timur Tengah 70 tahun kemudian?

Mesin yang dilengkapi dengan meriam kaliber 83,8 mm dan itu diproduksi sebagai bagian dari 700 unit yang ada dan telah menghabiskan seluruh “karier” militernya dalam berbagai konflik Arab-Israel di Timur Tengah.

Menurut Vadim Kozyulin, profesor di Akademi Ilmu Militer Rusia, para militan antara membeli, mencuri atau memperoleh kendaraan ini disekitar Yordania, yang mana ada sekitar 300 unit tank Centurion MK 3 dari total 700 unit yang ada.


“Jerman” dan ISIS


Senjata menarik lainnya dari ISIS yang kini berakhir di pangkalan militer Rusia ada senapan serbu StG 44 Sturmgewehr buatan Jerman, yang digunakan oleh pasukan Nazi selama Perang Dunia II.

Satu senapan pertama ditemukan pada awal 2016 di pinggiran Damaskus, di sebuah gudang militan. Namun, kemudian beberapa diantaranga jatuh ke tangan militan dari gudang-gudang militer Suriah, sekitar 5 ribu senapan StG 44 Sturmgewehr dirampas oleh para teroris pada awal-awal perang dan dibagikan ke bawahan mereka.

Pasukan Rusia bahkan menemukan senjata Jerman yang dilengkapi aksesoris yang akan terlihat aneh bila digunakan pada Perang Dunia II. Sebagai contoh para militan telah mengelaskan rel Picatinny untuk pemasangan perangkat teropong. Permainan eksperimental juga termasuk mengganti foregrip dan menambahkan peluncur granat rakitan sendiri.

Aspek lain yang mencolok dari senapan ini adalah selongsongnya yang sangat khusus (7,92 x 33 mm), yang tidak diproduksi lagi oleh industri pertahanan Jerman setelah Perang Dunia II. Menurut Kozyulin, para militan ISIS bisa saja memiliki amunisi dengan dua cara: pertama dari gudang yang sama dengan tempat senapan diambil, atau dengan memproduksinya sendiri.


“Dukungan” Tiongkok


Tidak ada dari daftar di atas yang sebanding dengan senjata-senjata Tiongkok yang digunakan oleh beberapa militan ISIS. Tentu, senjata buatan Jerman dan Inggris itu dari pertengahan abad lalu dan hanya bisa mengganggu dan tidak mematikan.

Namun begitu, sistem pertahanan udara portabel FN-6 (MPADS) adalah mimpi buruk yang nyata bagi tentara Rusia. Pada 3 Februari 2018, di provinsi Idlib, para militan itu menggunakannya untuk menjatuhkan pesawat tempur Su-25 Rusia, yang secara tragis menewaskan pilotnya.

“Bagaimana itu bisa berakhir ditangan para militan ISIS? Sederhana. Ini adalah versi ekspor dari MPADS HY-6 buatan China, yang bisa ditemukan di seluruh dunia, termasuk Kamboja, Peru, Pakistan dan lain-lain”, terang Kozyulin.

Sistem ini adalah peluncur rudal portabel yang efektif terhadap target yang terbang rendah pada ketinggian hingga 3,5 km. Dengan kata lain, FN-6 adalah senjata yang sempurna untuk melawan helikopter dan pesawat serbu Rusia. Senjata seperti itu merupakan ancaman paling nyata bagi tentara Rusia disana saat melawan ISIS.

Teroris di Marawi Paksa Warga Sipil Jadi Budak Seks

Tentara Filipina melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah untuk mencari anggota kelompok
millitan Maute

MANILA - Warga sipil yang disandera oleh kelompok teroris di Marawi dipaksa untuk menjarah rumah, mengangkat senjata melawan pasukan pemerintah, dan bahkan menjadi budak seks untuk para teroris. 

Keterangan itu disampaikan pihak militer Filipina, berdasarkan pengakuan tujuh warga yang baru berhasil lolos dari penyanderaan di kota dengan penduduk Muslim terbesar di Filipina itu.

Menurut Jurubicara Militer Filipina Jo-Ar Herrera, yang berbicara dalam sebuah konferensi pers, Selasa (27/6/2017), para sandera pun dipaksa untuk memeluk agama Islam.

Sejumlah sandera ditugasi untuk membawa para teroris yang terluka ke masjid.

Selain itu, sandera perempuan dipaksa menikah dengan anggota kelompok Maute yang merupakan gerombolan teroris yang mengaku setia kepada kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS). 

"Inilah yang terjadi di dalam, ini sangat jelas," kata Jo-Ar Herrera seperti dikutip kantor berita Reuters.

Meski laporan tujuh sandera itu tak bisa diverifikasi, namun hal itu merupakan kisah mengerikan terbaru yang muncul dalam pergolakan yang telah berlangsung selama lebih dari lima minggu.

Beberapa warga yang berhasil lolos dari maut juga mengatakan, mayat penduduk dibiarkan tergeletak di jalan selama berhari-hari.

Sementara, warga sipil terus menjadi perisai hidup bagi para teroris, saat mereka dibombardir oleh serangan udara dan artileri yang kini telah menghancurkan Marawi.

Kemampuan tempur para teroris, akses terhadap senjata berat, dan penggunaan pejuang asing telah menimbulkan kekhawatiran bahwa pertempuran Marawi menjadi awal kampanye yang lebih luas.

Presiden Rodrigo Duterte, yang muncul kembali di depan publik setelah absen selama seminggu, mengatakan, dia sangat sedih atas krisis tersebut dan berjanji Marawi akan dibangun kembali.

Duterte juga mengaku mempunyai sepupu yang menjadi anggota Maute, yang salah satunya telah terbunuh.

Duterte meyakini keputusan untuk mengumumkan darurat militer di Mindanao dapat dibenarkan, karena dia tahu persis apa yang akan dilakukan oleh para ekstrimis itu.

"Saya tahu penempatan sniper dan di mana mereka menyembunyikan senjata api mereka," kata Duterte dalam sebuah pidato.

"Saya sudah memiliki gambaran yang lengkap, dan saya tahu itu akan menjadi pertarungan yang panjang," sambungnya.

Duterte mengatakan, dia mengerti mengapa separatis Muslim telah melawan Pemerintah, namun tidak dapat dapat memahami doktrin radikal yang mereka jalankan.

Duterte: Jangan Khawatir dengan Jatuhnya Korban Sipil

Presiden Filipina

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, Rabu (28/6/2017), meyakinkan pasukannya bahwa ia akan melindungi mereka dari tuntutan hukum jika mereka secara tidak sengaja membunuh warga sipil ketika memerangi militan yang menguasai kota Marawi, di Mindanao.

Duterte memerintahkan tentara untuk menghancurkan militan yang berafiliasi dengan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS), yang menyerang kota Marawi pada 23 Mei 2017.

Serangan ISIS itu memicu pertempuran yang kini telah menewaskan lebih dari 400 kombatan dan warga sipil.

Sekitar 17 mayat yang diyakini sebagai warga desa yang dibunuh militan di daerah Marawi, yang kini sudah dikuasai kembali oleh pemerintah, ditemukan pada Rabu (28/6/2017).

Dalam pidato televisi, Duterte mengatakan, tentara tidak bermaksud membunuh warga sipil, tetapi seharusnya mereka “tidak ragu untuk menyerang hanya karena terlihat ada warga sipil.”

Ia menambahkan, “Merupakan tugas warga sipil untuk melarikan diri atau mencari perlindungan.” Duterte meyakinkan tentara bahwa ia akan berjuang supaya mereka tidak dipenjara karena menewaskan warga sipil secara tidak disengaja.

Presiden Duterte memberlakukan undang-undang darurat militer di Filipina selatan untuk menghadapi krisis di Marawi, ketika ratusan militan menyerbu kota yang umumnya dihuni warga Muslim itu.

Kelompok ISIS dalam serangannya  menduduki sejumlah gedung, menyandera seorang pastor Katholik-Roma, dan mengibarkan bendera berwarna hitam gaya ISIS.

Arus pengungsi di wilayah Marawi, Filipina Selatan, ketika pertama kali pecah konflik bersenjata
antara pihak militer dan kelompok teroris Maute. 

Teroris di Marawi Persiapkan Perang Jangka Panjang

Kelompok militan Islam di FIlipina telah mempersiapkan diri untuk mengobarkan perang jangka panjang di kota Marawi, Pulau Mindanao yang bergolak.

Mereka dikabarkan menyimpan persenjataan dan makanan dalam jumlah besar, sebagaimana diungkapkan seorang perwira militer pada Senin (5/6/2017), demikian Deutsche Welle.

Militan Islam di Filipina selatan menumpuk persenjataan dan makanan di masjid-masjid, lorong, dan ruang bawah tanah untuk mempersiapkan pengepungan jangka panjang terhadap kota Marawi.

Persiapan matang teroris di Marawi mengungkap kualitas organisasi para gerilayawan yang berafiliasi dengan kelompok teror paling berbahaya, yakni Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).

Saat ini gerilayawan Muslim di Marawi dibantu oleh ratusan pejuang asing, termasuk dari Indonesia, Malaysia, India, Arab Saudi, Chechnya, dan Maroko.

Sejak dua pekan silam militer Filipina berusaha mengambilalih kontrol atas kota berpenduduk 200.000 jiwa itu. Namun, hingga kini kaum jihadis masih bercokol di jantung kota.

Manila berdalih, keberadaan 500-600 warga sipil di area pertempuran mempersulit operasi militer. Padahal Sabtu (3/6/2017), Presiden Rodrigo Duterte mengklaim Marawi akan dibebaskan dalam waktu tiga hari.

Komandan Militer Filipina di Mindanao, Mayor Jendral Carlito Galvez, mengklaim saat ini masih ada sekitar 200 pejuang Islam di dalam kota.

"Di rumah-rumah yang kami rebut, kami melihat cadangan peluru berukuran kaliber 50 dan 30 dalam jumlah besar. Dan jika mereka bertempur selama dua bulan, mereka tidak akan kelaparan," tuturnya dalam sebuah jumpa pers di Marawi. 

"Jika Anda melihat lebih seksama, Anda akan menemukan terowongan dan ruang bawah tanah yang bahkan tidak bisa dihancurkan oleh bom seberat 500 pound (226 kg)."

Galvez meyakini, kelompok militan telah menumpuk senjata dan makanan di masjid dan madrasah beberapa hari sebelum menyerbu kota Marawi.

Militer Filipina berjalan di sebelah kendaraan lapis baja ringan V-300

China Sumbangkan Senjata untuk Tentara Filipina yang Perangi Militan

Pemerintah China, Rabu (28/6/2017), mendonasikan ribuan pucuk senapan kepada pemerintah Filipina untuk membantu militer negeri itu yang sedang menghadapi kelompok militan pro-ISIS di kota Marawi.

Pengiriman senapan serbu dan senjata penembak jitu serta amunisi merupakan bantuan militer pertama dari China sejak Presiden Rodrigo Duterte mulai mendekati Beijing.

"Pengiriman persenjataan bernilai 50 juta yuan (Rp 98 miliar) ini merupakan era baru hubungan antara Filipina dan China," ujar Duterte.

Pertempuran di kota Marawi yang sudah berlangsung hampir selama satu bulan itu telah menewaskan 290 orang anggota militan dan 70 orang tentara.

Sementara, sebagian besar dari 200.000 penduduk Marawi mengungsi dan hampir semua bangunan di kota itu hancur.

"Kami nyaris menyerah karena kekurangan peralatan. Untunglah kami memiliki teman baik seperti China yang sangat memahami kami," ujar Dutuerte.

Duterte selama ini enggan mengakui adanya bantuan militer Amerika di Marawi. Dia selalu mengatakan tak tahu menahu tentang bantuan AS terhadap pasukan Filipina di Marawi.

Sementara itu, Dubes China untuk Filipina Zhao Jianhua mengatakan, gelombang kedua pengiriman senjata ke Filipina akan segera dilaksanakan.

"Sumbangan ini tak terlalu besar tetapi sangat bernilai karena menandai era baru hubungan antara militer kedua negara," ujang Jianhua.

"China akan membuka peluang latihan bersama, berbagai informasi intelijen, dan latihan bersama di kawasan tempat perang melawan teroris," tambah dia.

Sumber : KOMPAS

Saat AS dan Rusia Baku Hantam Merebut Raqqa dari ISIS

Perempuan tentara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) berlari dengan anak-anak di kota Tabqa,
setelah SDF merebutnya dari militan Islamic State

AS dan Rusia kini berlomba merebut Raqqa dari tangan ISIS, dan membiarkan sekutu mereka baku tembak di jalanan kota-kota menuju Raqqa.

Sejak awal 2017, pergerakan ISIS di Suriah Timur semakin tersudut. Kerjasama pasukan Suriah yang didukung Rusia dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) alias pasukan Kurdi yang disokong AS membikin ISIS semakin terpojok di Provinsi Raqqa. 

Jika pasukan Bashar Al Assad menyerang dari barat daya, dan SDF menggempur dari utara dan timur laut. Bahkan SDF bahkan saat ini sudah mulai memasuki kota Raqqa - ibukota Kekhalifahan ISIS.

Namun kabar terbaru membuat dua sekutu ini malah saling baku tembak. AS bahkan mengerahkan pesawat tempurnya untuk menjatuhkan Sukhoi SU-22 milik pemerintah Suriah kemarin (19/6).

Dikutip dari BBC, informasi ini pertama kali disebarkan oleh stasiun televisi yang dikelola pemerintah Suriah, Syiria TV. Mereka melaporkan bahwa pesawat tersebut ditembak jatuh manakala sedang mengemban misi melawan kelompok ISIS.

Informasi ini langsung dibenarkan oleh militer AS. "Pada pukul 6.43 petang waktu setempat, pesawat perang Suriah Sukhoi SU-22 menjatuhkan bom dekat markas milisi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di selatan Taqba. Kami segera menembak jatuh pesawat itu menggunakan jet tempur US F/A-18E Super Hornet," kata Komandan Pasukan Gabungan Amerika melalui sebuah pernyataan.

BBC melaporkan militer AS mengklaim tindakan ini dilakukan sebagai aksi membela diri setelah militer Suriah dua jam sebelumnya menjatuhkan sejumlah bom agar SDF hengkang dari Kota Ja'Din.

Serangan Suriah ini melukai beberapa pasukan dan menghambat penyerbuan SDF atas Raqqa dari selatan kota.  "Aksi-aksi dan niat bermusuhan yang ditunjukkan pasukan pro-rezim terhadap koalisi dan pasukan mitranya di Suriah yang sedang melakukan operasi melawan ISIS tidak akan ditoleransi," sebut militer AS.

"Sesuai dengan aturan kontak senjata dan aksi membela diri pasukan mitra koalisi secara kolektif, (pesawat tersebut) segera ditembak jatuh," sebut pernyataan militer AS.

Sementara itu Kementrian Pertahanan AS di Pentagon mendukung penuh serangan ini: “Koalisi tidak ingin bertempur dengan rejim Suriah, Rusia, atau pasukan pro-rejim, tetapi tidak akan ragu-ragu membela pasukan Koalisi atau mitra terhadap setiap ancaman.”

Sebagai sekutu rezim Assad, Rusia mengecam keras serangan ini. Dikutip dari RBTH pada hari Senin (19/6), Rusia telah membekukan segala interaksi dengan koalisi AS di Suriah. Mereka pun mengancam akan menembak objek terbang milik siapapun yang terbang di sisi barat sungai Eufrat. Kementerian Pertahanan Rusia menegaskan bahwa sistem pertahanan Rusia akan menangkal segala jenis pesawat di wilayah operasi Pasukan Kedirgantaraan Rusia di Suriah.

“Di wilayah di mana aviasi Rusia sedang mengadakan misi pertempuran di langit Suriah, segala objek terbang, termasuk jet tempur dan pesawat tak berawak dari koalisi internasional (AS) yang ditemukan di sisi barat Sungai Eufrat, akan dideteksi sebagai target udara oleh pertahanan darat dan udara Rusia,” ujar mereka.

Kemenhan Rusia mengatakan bahwa diperlukan “investigasi mendalam oleh komando AS atas langkah yang diambil dan dampak yang terjadi”.

“Kami menganggap aksi tersebut sebagai pelanggaran yang disengaja terhadap kerangka memorandum pencegahan insiden dan keamanan penerbangan selama operasi di ruang udara Suriah."

Sejak awal Mei lalu, Rusia menerapkan zona de-eskalasi alias area “zona aman” di Suriah. Zona ini haram dilewati oleh seluruh pesawat jet tempur Amerika Serikat (AS) dan koalisinya.  Zona de-eskalasi ini jadi basis milisi anti-pemerintah Assad dan AS dilarang ikut campur menggelar operasi militer di sana.  Zona aman pertama mencakup Provinsi Idlib serta bagian Latakia. Lalu Zona kedua Aleppo, dan Hama. Dua zona ini yang dikuasai kelompok milisi Islam, Jabhat Fateh al-Sham  dan Ahrar al Syam. Kemudian zona ketiga Ghouta Timur, Damaskus dan zona keempat di Suriah Selatan dekat perbatasan Yordania. Zona ketiga dan keempat dikuasai yang dikuasai kelompok pemberontak moderat yang diback-up oleh AS.

Kota di sekitaran Raqqa tidak mencakup zona ini karena Suriah Utara dikuasai oleh SDF yang cenderung menjadi sekutu Bashar Al Assad. AS hanya diberi wewenang terbang di sebelah barat sungai Eufrat. Sungai ini membelah kota Raqqa menjadi bagian utara dan selatan. Dengan diberlakukan zona larangan terbang, AS mau tak mau akan kesulitan memberikan bantuan kepada milisi SDF yang sedang menggempur Raqqa dari selatan, khususnya kota At-Tabqah.

Pasca penembakan SU-22, baku tembak cukup dahsyat di darat dilaporkan terjadi di dua titik sekaligus yakni barat daya kota At-Tabqah dan barat daya kota Rasafaf.  Hal ini diungkap pasukan SDF dalam akun twitter resmi mereka. Kepada ARA News, Talal Silo -- juru bicara SDF -- mengakui serangan dari pemerintah Suriah ini tidak akan menciutkan rencana mereka menyerbu Raqqa.

"Tujuan serangan ulang rezim Suriah terhadap pasukan kami adalah membatalkan operasi untuk membebaskan kota Raqqa," katanya. "Kami menekankan bahwa kelanjutan serangan rezim terhadap posisi kami di provinsi Raqqa akan memaksa kami untuk mundur dan kami akan membela pasukan kami untuk tidak mundur, " katanya.

Pengamat militer Joseph V Micallef dalam kolomnya di Huffington Post menyebut penyerbuan Raqqa adalah perlombaan proxy war antara AS melawan Rusia. "Dalam prosesnya, kampanye Raqqa juga menjadi kontes proxy baru antara Gedung Putih dan Kremlin," kata dia.

"Jika Angkatan Darat Suriah berhasil merebut Raqqa, ini akan menggarisbawahi efektivitas intervensi Kremlin di Suriah. Selanjutnya memperkuat seruan Moskow untuk sebuah kampanye yang (mengatakan) dipimpin oleh Rusia lebif efektif ketimbang koalisi yang dipimpin AS. Ini akan membuktikan Kegagalan kebijakan luar negeri AS di Suriah."

"Sedangkan kemenangan untuk SDF setidaknya akan memunculkan AS telah berhasil mengalahkan ISIS dengan cara yang soft. Tidak seperti usaha yang dipimpin oleh Rusia, yang tidak berusaha meminimalkan kematian warga sipil dan mengorbankan kerusakan parah," katanya.

Sumber : tirto.id

Di Marawi, Militer Filipina di Tumpas Habis Oleh Militan ISIS

Militer Filipina bergerak ke Kota Marawi, 5/6/2017 (Philippines Information Agency)

Marawi – Pasukan Filipina yang bergerak menyerang posisi kelompok militan di kota Marawi, pada pekan lalu, terperangkap di sebuah daerah bahaya.

Sersan Teknis Mahamud Darang mengatakan angkutan lapis bajanya mendapat tembakan dari petempur berpakaian hitam, granat berpeluncur roket yang memotong lajur pasukan yang sedang menyeberang sungai Agus menuju pusat perdagangan kota Marawi, sebuah kawasan yang dikuasai oleh petempur sejak 23 Mei.

Granat pertama menghantam tanah di depan mereka, ujar Darang kepada Reuters. Dia kemudian melihat si penembak, sesaat sebelum pelaku melepaskan tembakan lagi.

“Dia berada di lantai tiga sebuah bangunan, lalu yang kedua berada dalam kendaraan dan meledakkan-nya,” kata Darang, berbicara dari ranjang rumah sakit, sementara kepala dan bahunya dibalut akibat luka pecahan peluru, dilansir ANTARA, 16/6/2017.

Seorang tentara tewas, sedangkan Darang dan beberapa lainnya terluka. Veteran tentara berusia 21 tahun itu mengalami perdarahan dan memerintahkan rekan-rekannya turun dari kendaraan yang terbakar dan berlindung di bangunan terdekat.

Keempat tentara tersebut kemudian diselamatkan dan dilarikan ke rumah sakit.

Kesatuan lainnya juga menemui situasi yang sama dari para petempur yang berada di dalam gedung, lima sampai sepuluh tingkat tingginya, seperti ketika mereka menyeberangi jembatan Mapandi yang letaknya rendah di atas sungai. Terdapat beberapa yang terkena bom molotov.

Tiga belas tentara tewas dan sekitar 40 lainnya cedera dalam pertarungan 14 jam pada Jumat, sebuah kemunduran besar bagi pasukan pemerintah dan sebuah isyarat bahwa pertempuran untuk merebut kembali kota dari perkiraan sekitar 150 200 petempur yang bersekutu dengan IS akan sulit.

Presiden Rodrigo Duterte telah mengatakan beberapa kali bahwa pertarungan Marawi akan segera berakhir dalam beberapa hari ke depan.

Ketika Duterte mendekati akhir tahun pertama jabatannya, citra kuatnya dapat hancur jika pertempuran terus berlanjut.

Dia dapat terpaksa, mencari dukungan lebih besar dari Amerika Serikat, meskipun bersikap bermusuhan terhadap Washington sejak ia mengambil kekuasaan.

Beberapa tentara pasukan khusus AS menyediakan dukungan teknis di Marawi dalam persiapan yang sudah berlangsung lama, dan sebuah pesawat mata-mata P3 Orion dan pesawat tak berawak telah memberikan bantuan pengintaian, namun pasukan AS tidak terlibat langsung dalam pertempuran tersebut.

Sedikitnya delapan tentara di garis depan di Marawi mengatakan kepada Reuters bahwa para petempur menggunakan penembak jitu dengan tembakan yang akurat, granat dan bom api untuk menahan pasukan yang maju, meski setiap hari pengeboman dan tembakan artileri di posisi mereka terus berlangsung.

Banyak yang berbicara dengan syarat tidak disebut jatidiri karena mereka tidak berwenang untuk memberikan keterangan kepada media.

Militer mengatakan bahwa 290 orang telah tewas, terdiri atas 58 tentara, 206 gerilyawan dan 26 warga sipil. Warga yang melarikan diri dari kota hancur itu mengatakan bahwa mereka telah melihat setidaknya 100 jasad di reruntuhan dan daerah pertempuran.

Pertempuran Marawi, di wilayah Mindanao, Filipina selatan menandai pertama kalinya kelompok IS menguasai wilayah untuk waktu yang lama di Asia Tenggara. Negara terdekat seperti Indonesia dan Malaysia, keduanya memiliki penduduk mayoritas Muslim, merasa khawatir hal tersebut dapat menjadi pemicu kekerasan baru di regional, sebagai aksi gerakan petempur yang menderita kekalahan di Irak dan Suriah.

Sumber : Antara/Routers

Panglima TNI Sebut Kelompok ISIS di Marawi Berpotensi Masuk ke Indonesia

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo

JAKARTA - Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan, ada potensi pergeseran kekuatan kelompok teroris yang berafiliasi dengan ISIS di Marawi, Mindanao, Filipina Selatan, ke Indonesia.

Kelompok teroris tersebut diperkirakan masuk melalui daerah-daerah perbatasan di bagian utara seperti Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara, dan Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara.

"Ada loncatan ISIS dari Marawi ke Bitung, Morotai, dan seterusnya. Itu loncatan yang memang mudah. Hal ini yang sama-sama perlu kita waspadai," ujar Gatot, saat menghadiri acara buka puasa bersama dengan sejumlah pimpinan media massa nasional, di Balai Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (12/6/2017).

Di Indonesia sendiri, lanjut Gatot, sudah terbentuk "sel-sel tidur" yang jika "dibangunkan" akan membentuk jaringan radikal.

Oleh karena itu, kekuatan pertahanan saat ini tengah difokuskan untuk menjaga wilayah perbatasan untuk mencegah masuknya jaringan ISIS.

"Kalau ada langkah yang membangunkan sel tidur ini maka berbahaya. Dalam konteks ini bila kita tidak bisa menangani, maka tangan dari luar akan datang dengan dalih kemanusiaan," kata Gatot.

"Jangan sampai konflik di Suriah berpindah ke Indonesia, ini yang saya minta peran dari media. Jangan sampai mereka masuk ke tempat kita karena di Indonesia sudah ada benih-benihnya," papar Gatot.

Selain itu Gatot juga menuturkan bahwa dirinya sudah memprediksi gejolak kelompok teroris yang berafiliasi dengan ISIS di Marawi, Pulau Mindanao, Filipina.

Gatot mengungkapkan, sekitar 1,5 tahun yang lalu, dia pernah menerima informasi dari intelijen negara Bahrain.

Informasi itu mengungkap kemungkinan kekuatan ISIS bergerak dari Irak dan Suriah menuju Asia Tenggara, yakni Filipina Selatan.

"Saya sampaikan bahwa Bahrain memberikan info secara intelijen apabila di Suriah dan Irak tidak aman, maka ISIS di Asia Tenggara tempatnya di Filipina Selatan. Itu bersamaan dengan mulainya peristiwa penculikan," ujar Gatot.

Sumber : Kompas.com

Antisipasi Konflik ISIS di Marawi, TNI Kerahkan Kapal Selam Jaga Perbatasan

Panglima TNI Gatot Nurmantyo

JAKARTA - TNI tengah melakukan antisipasi dampak kontak senjata antara militer Filipina dengan kelompok teror Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) di wilayah Marawi, Filipina Selatan. Salah satu langkah antisipasi yang diambil TNI yakni membangun dermaga kapal selam di wilayah Palu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan, TNI memberikan atensi penuh terhadap segala kemungkinan yang terjadi di Marawi dengan mengerahkan kemampuan segenap alat pertahanan negara.

Karenanya, lanjut Gatot, TNI mengerahkan kapal selam untuk melakukan pengintaian di wilayah perairan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina. "TNI tidak main-main," ujar Gatot melalui keterangan pers yang diterima SINDOnews, Sabtu (10/6/2017).

Gatot menuturkan, TNI telah mempelajari kemungkinan yang terjadi di Filipina Selatan yang dampaknya diprediksi bisa terpapar ke Indonesia. Karenanya, lanjut Gatot, TNI telah meningkatnya kekuatan di perbatasan serta mengerahkan sejumlah alutsista termasuk kapal selam.

Langkah itu, tambah Gatot, untuk mengantisipasi dampak negatif terhadap Indonesia. "Kapal selam sudah dikerahkan, ada di Pulau Marore dan Mianggas," kata Gatot. 

Sumber : SINDONews

Wartawan Prancis ini Menyusup ke Sarang ISIS, Dia Terkejut, Tak Temukan Islam di Sana


Seorang jurnalis asal Perancis berhasil menyusup dan berbaur bersama dengan para simpatisan ISIS dalam jaringan teror bawah tanah di Paris. Pengalaman jurnalis Muslim itu mengejutkan, karena menurut dia para simpatisan ISIS itu sama sekali tidak paham soal Islam.

Jurnalis yang menggunakan nama samaran Ramzi ini mengaku "tidak melihat Islam" selama enam bulan menyamar dalam jaringan tersebut. Dia hanya menemukan para pemuda yang "tersesat, frustrasi, memiliki kecenderungan bunuh diri dan sangat mudah dimanipulasi."

Penyusupan Ramzi dilakukan antara musim panas 2015 hingga Januari 2016. Dia mengaku sangat mudah menghubungi kelompok yang menyebut diri sebagai "Tentara Allah" di Facebook itu.

Dia merekam banyak peristiwa dalam kelompok itu menggunakan kamera tersembunyi, termasuk rapat perencanaan serangan di sebuah kelab malam. Dikutip dari The Independent, Selasa (3/5), rekaman tersebut ditayangkan di stasiun televisi Canal pada Senin lalu dengan judul "Tentara Allah."

Ramzi mengatakan, jaringan itu terdiri dari 10 anggota yang dipimpin oleh pemuda berusia 20 tahun bernama Ossama. 

Ossama sempat ditolak masuk angkatan bersenjata Perancis, pernah menjadi pemuja setan atau Satanis dan pecandu alkohol sebelum berkenalan dengan kelompok Islam radikal di internet.

Dia pernah dipenjara selama enam bulan setelah ketahuan mencoba bergabung dengan ISIS. Dia dibebaskan dan wajib lapor setiap hari ke pos polisi.

Pria keturunan Perancis-Turki ini adalah "emir" dari kelompok yang menggunakan aplikasi berbagi pesan Telegram untuk mengatur pertemuan.

Dalam sebuah rekaman tersembunyi, Ossama terlihat tersenyum saat membayangkan dirinya ditembak mati oleh polisi, seraya mengatakan "Syuhada tidak merasakan sakit."

"Kita harus menyerang pangkalan militer. Ketika mereka makan, mereka berbaris, atau jurnalis. BFM iTele, mereka berperang melawan Islam," kata Ossama dalam rapat itu.

"Seperti yang mereka lakukan kepada Charlie [Hebdo]. Kau harus menyerang mereka di jantungnya. Serang mereka tiba-tiba. Mereka tidak terlindungi. Ribuan warga Perancis harus mati," lanjut dia.

Ossama merencanakan serangan ke kelab malam dan bandara Paris–Le Bourget, yang menurutnya akan membuat Perancis trauma selama berabad-abad.

Namun rencana itu baru terlaksana setelah mendapatkan konfirmasi dari seorang militan bernama Abu Suleiman, veteran perang ISIS yang pernah bertempur di Raqqa, Suriah.

Ramzi pernah terlibat dalam sebuah rencana penyerangan. Dia diminta untuk berjalan ke stasiun kereta dan bertemu dengan seorang wanita yang memberikannya surat instruksi.

Dalam instruksi itu, dia harus menyerang kelab malam dan meledakkan diri menggunakan rompi bunuh diri setelah ada pasukan keamanan yang datang. Abu Suleiman dalam hal ini yang memberikan perintah menyiapkan peledak dan ranjau di mobil melalui Telegram.

Jaringan Ossama telah diawasi oleh badan intelijen Perancis, DCRI, dan mereka ditangkap pada Desember dan Januari lalu.

Ramzi, 29, mengatakan bahwa dia adalah Muslim yang "satu generasi dengan para pembunuh" di Paris November lalu yang menewaskan 130 orang.

"Tujuan saya adalah untuk memahami apa yang ada pikiran mereka," kata Ramzi saat diwawancara AFP.

"Salah satu pelajaran utama adalah, saya tidak pernah melihat Islam dalam masalah ini. Tidak ada niat mereka mengubah dunia. Hanya para pemuda yang tersesat, frustrasi, memiliki kecenderungan bunuh diri dan sangat mudah dimanipulasi."

"Mereka tidak beruntung lahir di masa keberadaan ISIS. Sangat menyedihkan. Mereka adalah para pemuda yang mencari sesuatu, dan malah ini yang mereka temukan," lanjut dia.

CNN Indonesia

Detik-Detik Rudal Jelajah Rusia Serang ISIS di Palmyra

Detik-Detik Kapal Rusia Tembakan Misil Serang ISIS di Suriah 

Palmyra - Rusia kembali mewujudkan dukungannya kepada rezim Bashir al-Assad untuk memberantas pemberontak dan ISIS di Suriah. Hal itu dilakukan dalam sebuah serangan misil yang diluncurkan dari kapal perang Beruang Merah pada Rabu 31 Mei 2017.

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, serangan itu ditargetkan kepada shelter ISIS di timur kota kuno Palmyra. Bangunan itu dipercaya sebagai penyimpanan senjata dan tentara yang dikerahkan ISIS dari Raqqa.

"Kapal perang Admiral Esse dan kapal selam Krasnodar milik Angkatan Laut Rusia telah meluncurkan empat rudal jelajah Kalibre yang menargetkan obyek milik ISIS di Palmyra," kata pernyataan kementerian pertahanan Rusia seperti dikutip dari CNN, Kamis (1/6/2017).

"Peluncuraan misil jelajah dilakukan dari Laut Mediterania dan seluruh target berhasil dihancurkan," lanjutnya.

Pernyataan tersebut mengatakan bahwa seranga tersebut "memastikan kesiapan tempur Angkatan Laut Rusia yang tinggi di Suriah,". Rusia juga menjelaskan bahwa AS, Turki dan Israel telah diberitahu mengenai serangan itu.

"Amerika Serikat, Turki dan Rusia semua memiliki posisi yang sama untuk menghancurkan ISIS, dan karena itu mereka bekerja sama pada tingkat tertentu," kata pengamat militer Matthew Chance dari CNN.

"Semua pihak saling berhubungan satu sama lain dan semua berusaha untuk mengkoordinasikan serangan mereka terhadap ISIS dan target lainnya."

Kementerian Pertahanan Rusia juga memposting video berisi detik-detik peluncuran misil Kalibre yang melegenda itu dalam Twitter-nya.

Liputan 6

"Dibanding Teroris ISIS, Putin Jauh Lebih Berbahaya"

Presiden Rusia Vladimir Putin.

Presiden Rusia Vladimir Putin jauh lebih berbahaya dan menjadi ancaman yang lebih besar bagi keamanan dunia, dibandingkan dengan kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) sekalipun. 

Pandangan itu diutarakan Senator Amerika Serikat dari Partai Republik John McCain.

McCain yang selama ini dikenal sebagai salah satu kritikus Presiden AS Donald Trump, merupakan sosok yang kerap berbicara lugas. 

Dia menyebut, campur tangan Rusia dalam pemilihan umum di AS merupakan bahaya bagi demokrasi.

"Saya pikir dia (Putin) adalah ancaman utama dan paling penting, lebih dari sekadar ISIS," kata McCain, selaku Ketua Komite Angkatan Bersenjata di Senat, dalam wawancara dengan Australian Broadcasting Corporation, Senin malam (29/5/2017).

"Saya pikir ISIS bisa melakukan hal-hal yang mengerikan, tapi orang-orang Rusia mencoba menghancurkan demokrasi yang sangat fundamental, dan itu adalah untuk mengubah hasil pemilihan umum di AS."

"Saya tidak melihat bukti bahwa mereka berhasil, tapi mereka mencoba dan mereka masih berusaha. Mereka hanya mencoba mempengaruhi hasil pemilihan Perancis," cetus dia lagi.

"Jadi saya melihat Vladimir Putin, yang telah memotong-motong Ukraina, sebuah negara berdaulat, yang memberi tekanan pada Baltik, saya memandang Rusia sebagai tantangan terbesar yang kita miliki."

Komentar McCain datang bersama dengan kasus yang membelit tim Trump mengenai hubungannya dengan Moskwa.

Menurut badan intelijen AS, Rusia mencoba mempengaruhi pemilihan November lalu atas permintaan Donald Trump.

Investigasi mengenai campur tangan Rusia sedang dipimpin oleh Robert Mueller, mantan Direktur FBI yang dihormati yang diberi wewenang luas untuk mengajukan kasus tersebut sebagai penasihat khusus.

Selama akhir pekan, kegaduhan menusuk lingkaran terdalam Gedung Putih, menyusul laporan bahwa menantu Trump, Jared Kushner, mencari hubungan komunikasi rahasia dengan Rusia.

Ketika ditanya tentang Kushner, McCain yang berada di Australia dalam suatu kunjungan, mengatakan, "pandangan saya tentang hal ini adalah saya tidak menyukainya".

Kompas

Evakuasi WNI dari Marawi Belum Memungkinkan

Militer Filipina bergerak ke Kota Marawi 29/5/2017.

Jakarta – Proses evakuasi 10 warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Kota Marawi, tempat peristiwa baku tembak antara kelompok bersenjata dengan aparat militer Filipina, belum mungkin dilakukan karena operasi militer di kota itu masih terus berlangsung.

“Saat ini belum memungkinkan untuk kita melakukan evakuasi untuk 10 WNI dari Marawi karena memang situasi di sana masih ada operasi militer sehingga sulit untuk kita membawa mereka keluar,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir di Jakarta, 29/5/2017.

Arrmanatha menyebutkan di Marawi saat ini ada 10 WNI jamaah Tabligh asal Bandung dan Jakarta yang sedang melakukan Khuruj (meninggalkan rumah untuk ibadah dan dakwah di masjid selama 40 hari).

“Dan satu orang Indonesia lainnya adalah WNI yang menikah dengan orang setempat dan sudah lama tinggal di Marawi. Yang bersangkutan selama ini menjalin kontak dengan KJRI Davao,” ujarya.

Dia menjelaskan, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Davao telah menyiapkan rencana evakuasi jika situasi di Marawi sudah memungkinkan.

Namun, sejauh ini rencana upaya evakuasi itu masih belum dapat dilaksanakan karena pemerintah Filipina masih memberlakukan situasi gawat darurat militer di Marawi dan tentara Filipina masih melakukan operasi militer di kota tersebut.

“Sehingga sulit untuk kita memasukkan orang untuk membawa WNI keluar dari Kota Marawi,” ucap Arrmanatha.

Akan tetapi, dia memastikan bahwa kesepuluh WNI jamaah Tabligh yang ada di Marawi dalam keadaan baik dan berada di lokasi yang aman.

“Saat ini para WNI itu berada di daerah yang aman sehingga untuk sementara mereka tetap di sana,” ujar dia.

Pihak Kepolisian RI terus berkoordinasi dengan kepolisian setempat di Filipina untuk membantu mengawasi dan memastikan keselamatan para WNI di Marawi.

Pihak KJRI Davao juga terus menjalin komunikasi dengan Kepolisian Provinsi Lanao del Sur di Marawi untuk memberikan perlindungan bagi WNI.

Arrmanatha menambahkan, sejauh ini belum ada informasi mengenai keterkaitan para WNI tersebut dengan kelompok Maute atau ISIS atau kelompok teroris lain yang berhubungan dengan konflik bersenjata di Marawi pada 23-24 Mei 2017.

“Mereka (WNI di Marawi) memiliki dokumen, seperti paspor, yang lengkap dan sudah mendapat izin dari pemerintah setempat untuk melakukan kegiatan (Khuruj) mereka,” ucapnya.

11 WNI Tidak Terlibat Konflik

Kementerian Luar Negeri 29/5/2017 menyatakan 11 Warga Negara Indonesia yang berada di Marawi, Filipina, tidak terlibat dalam insiden baku tembak antara tentara Filipina dengan kelompok bersenjata di Kota Marawi.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal menyatakan tidak ada laporan bahwa para WNI tersebut terlibat konflik di kota Marawi.

“Mereka ini adalah anggota Jamaah Tabligh yang melakukan khuruj, berdakwah selama 40 hari, di Filipina. Kebetulan markas JT di Filipina ada di Marawi,” kata Iqbal dalam pesan singkat yang diterima di Jakarta.

Keberadaan para WNI itu pun diketahui oleh aparat keamanan Filipina karena secara resmi mereka telah diinfokan dan dilaporkan kepada aparat keamanan setempat, ucap Iqbal.

Pemerintah Indonesia sedang mengupayakan agar kesebelas WNI yang kini berada di Kota Marawi, Mindanao, Filipina dapat segera dipulangkan ke Tanah Air.

Pada Selasa Malam (23/5/2017), Presiden Filipina Rodrigo Duterte memberlakukan darurat militer di Mindanao, menyusul baku tembak antara tentara Filipina dengan kelompok bersenjata di Kota Marawi.

Baku tembak terjadi ketika polisi dan tentara bergerak untuk melaksanakan perintah penahanan seorang pemimpin kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon.

Kelompok Maute kemudian menyerbu Kota Marawi sebagai bentuk respon atas rencana penahanan tersebut.

Status darurat militer tersebut diharapkan tidak berdampak terhadap keselamatan tujuh WNI yang saat ini masih disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina, ujar Iqbal.

ANTARA

Indonesia Perkuat Patroli Wilayah Laut

Dok. KRI Sultan Hasanuddin-366. (koarmatim.tnial.mil.id)

Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengaku telah memperkuat patroli di wilayah laut dan darat Indonesia untuk mencegah anggota gerakan militan negara Islam (ISIS) dari Filipina, masuk ke Tanah Air.

“Kita perkuat patroli maritim, perkuat juga posisi di darat. Saya sudah berbincang dengan Panglima TNI dan Kapolri untuk dapat membendung kemungkinan adanya penerobosan ke Indonesia,” ujar Menko Polhukam di Jakarta, 29/5/2017

Mantan Panglima TNI ini juga menyatakan dukungannya terhadap Pemerintah Filipina, yang mengambil tindakan keras terhadap kelompok bersenjata Maute, yang terafiliasi dengan ISIS.

“Kita dukung sepenuhnya pihak Filipina untuk segera melakukan satu serangan-serangan sistematis untuk memperkecil kemungkinan basis ISIS di Filipina Selatan itu,” ujarnya.

Terkait keanggotaan ISIS, Menko Polhukam menerangkan kemungkinan adanya Warga Negara Indonesia (WNI) yang bergabung dengan organisasi radikal tersebut sangat besar.

Apalagi, saat ini ISIS telah menerapkan konsep divergensi, yakni mengundang dan mendatangkan simpatisan dari berbagai negara, untuk dimasukkan ideologi mereka, dan dilatih bertempur.

Selain itu, ISIS juga diketahui telah menyebarkan aktivis mereka ke seluruh dunia, termasuk Asia Tenggara, ujar Wiranto.

“Tercatat 500 orang dari Indonesia yang berangkat ke Syria untuk bergabung dalam konsep di sana. Boleh jadi aktivis ISIS ini telah disebar, dan yang ada di Filipina saat ini termasuk dari Indonesia,” tuturnya pula.

Oleh karena itu, menurut Menko Polhukam, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah ditugaskan mencari tahu jumlah WNI yang terlibat dengan kelompok bersenjata tersebut, melalui sejumlah laporan dari negara-negara lain.

“Tapi yang penting adalah bagaimana kita dapat membendung, jangan sampai basis itu menjalar ke Indonesia,” jelas Wiranto.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte memberlakukan darurat militer di Mindanao, pada Selasa malam (23/5), menyusul baku tembak antara tentara Filipina dengan kelompok bersenjata Maute di Marawi, Filipina.

Media lokal Filipina sebelumnya melaporkan baku tembak terjadi ketika polisi dan tentara bergerak untuk melaksanakan perintah penahanan seorang pemimpin kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon.

Kelompok Maute kemudian menyerbu Kota Marawi sebagai bentuk respons atas rencana penahanan tersebut.

Panglima TNI: Pasukan Siap Hadang ISIS di Perbatasan Filipina

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat berkeunjung ke Markas Kesatrian Gatot
Subroto Grup 1 Kopassus di Serang Banten. TEMPO/Darma Wijaya

Jakarta - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan pasukannya telah berjaga di sekitar perbatasan Filipina untuk mengantisipasi masuknya kelompok ISIS Filipina ke Indonesia. Ini terkait dengan serangan militer Filipina ke basis ISIS di Marawi.

"Perbatasan kami jaga supaya ISIS tidak masuk ke Indonesia," kata Gatot setelah menghadiri acara buka puasa bersama di kantor Partai NasDem, Jakarta, Ahad, 28 Mei 2017. 

Sebelumnya, pasukan militer Filipina menggempur kelompok pemberontak Maute di Kota Marawi sejak 25 Mei 2017. Pertempuran tersebut menewaskan 44 orang, 11 di antaranya pasukan militer Filipina.

Pertempuran untuk membebaskan Kota Marawi dari cengkeraman kelompok Maute masih berlangsung hingga hari ini. Filipina mengerahkan beberapa tank dan helikopter dalam operasi militer di Marawi, kota yang dihuni mayoritas muslim.

Gatot mengatakan TNI melakukan patroli laut sepanjang Maluku Utara sampai dengan Sulawesi. Ia pun mengatakan pasukannya berjaga bersama kepolisian di wilayah darat.

Gatot Nurmantyo memastikan pasukannya juga berjaga di semua wilayah perbatasan, termasuk pelabuhan-pelabuhan bayangan. "Supaya tidak ada penyusupan," katanya.

Sumber : TEMPO

Militer Filipina: Militan ISIS di Marawi Menyamar Jadi Pengungsi

Militer Filipina mengikuti salat Jumat berjamaah si sebuah masjid di kota Marawi, Filipina
 Selatan, 26 Mei 2017. Pejabat Filipina mengatakan bahwa kota Marawi tengah dikuasai militan
Maute yang merupakan gerilyawan terkait ISIS. (Jes Aznar/Getty Images)

Marawi - Militer Filipina meningkatkan pengamanan setelah mengendus sejumlah milisi ISIS di Marawi menyamar sebagai pengungsi masuk ke Kota Iligan.

Saat ini, menurut laporan Reuters, Kota Iligan mulai dibanjiri pengungsi dari Kota Marawi. Mereka ingin menyelamatkan diri dari pertempuran antara milisi Maute yang berafiliasi terhadap ISIS dengan pasukan pemerintah Filipina.

"Kota Iligan mulai dikunci oleh militer sejak Senin, 28 Mei 2017, karena diduga milisi ISIS di Marawi mulai menyelinap," tulis Straits Times, Selasa, 29 Mei 2017.

Pertempuran di Kota Marawi antara pasukan pemerintah melawan kelompok Maute, militan pro-ISIS, adalah tantangan keamanan terbesar Presiden Rodrigo Duterte selamma menjabat sebagai presiden 11 bulan.

Sejak peperangan berlangsung, hampir 200 ribu penduduk Marawi mengungsi ke Iligan berjarak sektar 38 kilometer ke arah utara. Namun militer melakukan pemeriksaan ketat karena ditakutkan para milisi ISIS menyusup di antara pengungsi.

"Kami tidak ini apa yang terjadi di Mawari pindahke Iligan," kata Kolonel Alex Aduca, Kepala BatalionInfantri Keempat."Kami ingin memastikan keselamatan masyarakat di sini," ujarnya kepada Radio DZMM.

Dia mengatakan, beberapa pemberontak yang mencoba menyelinap ke dalam Iligan telah ditangkap. Namun dia tidak memberikan keterangan rinci kepada wartawan.

Milite Filipina mengatakan, sebanyak 61 militan ISIS, 20 anggota pasukan keamanan dan 19 warga sipil tewas sejak pertempuran di Mawari, Selasa pekan lalu.

Sumber : TEMPO

Tony Blair : ISIS Harus Dihancurkan

Tony Blair : ISIS Harus Dihancurkan
Intervensi militer diperlukan untuk memastikan kelompok ISIS hancur tidak bersisa, ujar mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Blair mendeskripsikan serangan teror di Brussels, Belgia pekan lalu sebagai sesuatu yang “mengejutkan,” namun peristiwa semacam itu akan terus terulang, kecuali ekstremisme ISIS bisa diatasi.

ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Brussels, yang menewaskan 31 orang dan melukai ratusan lainnya.

Dalam tulisannya di Sunday Times, Minggu (27/3/2016), Blair menyebut strategi baru diperlukan untuk mengalahka ekstremisme, termasuk kerja sama yang lebih intens antar agensi intelijen.

Sistem efektif untuk menangani gelombang pengungsi juga harus ditingkatkan demi mencegah ancaman keamanan di Eropa. Namun dia juga menegaskan ISIS harus segera dihancurkan.

“Kita dapat menggunakan pasukan lokal untuk berperang, namun mereka membutuhkan peralatan dan dukungan militer. Kita harus memberikannya,” ujar Blair. “Pasukan Amerika sedang melakukannya saat ini.”

ISIS semakin memperluas pengaruhnya, termasuk di Libya yang kini dilanda kekacauan politik. Blair khawatir ekspansi ISIS di Libya akan semakin memperburuk keadaan.

“Membiarkan ISIS menjadi militan terbesar di Libya, yang dekat dengan Eropa, adalah sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. ISIS harus dihancurkan,” ujar Tony Blair.

Metrotvnews.com

Angkatan Udara Bergerak untuk Mengganti Bomb Stockpile Dikeringkan oleh ISIS Melawan

Selusin 2.000 pound bersama amunisi serangan langsung duduk di dalam sebuah gudang di Al Udeid Air Base, Qatar, 17. bom Desember dibangun dengan tangan oleh penerbang dari Ekspedisi Pemeliharaan Skuadron Mesiu pesawat tersebut 379. The Munitions Penerbangan telah membangun hampir 4.000 bom sejak Juli 2015. (Angkatan Udara AS foto oleh Tek. Sgt. James Hodgman / Dirilis)
Seorang pejabat Angkatan Udara meremehkan laporan bahwa layanan ini menghadapi kekurangan rudal dan bom sebagai hasil dari kampanye udara terhadap Negara Islam.

"Kami tidak khawatir [apakah] kita memiliki persediaan untuk melakukan apa yang perlu kita lakukan hari ini," Letnan Jenderal Jay Raymond, wakil kepala staf untuk operasi, kepada wartawan Kamis pagi. "Tapi kami memastikan kami meminta [pasokan tambahan] untuk mengurus masa depan, atau operasi potensi masa depan."

Pada bulan Desember, bos Raymond, Angkatan Udara Kepala Staf Jenderal Mark Welsh, menjadi berita utama ketika ia mengatakan serangan udara terhadap Negara Islam di Irak dan Suriah, atau ISIS, yang Bimbang stockpile layanan untuk rudal AGM-114 Hellfire digunakan dalam serangan pesawat tak berawak dan bom GPS-dipandu seperti Joint Direct Attack Munition (JDAM), antara amunisi lainnya.

Angkatan Udara telah dikeluarkan lebih dari 20.000 rudal dan bom di Irak dan Suriah sejak mulai kampanye melawan ISIS di 2014. Ini dilaporkan dibakar melalui lebih amunisi dalam beberapa bulan terakhir, meskipun masih dilaporkan telah diperkirakan 142.000 bom pintar dan 2.300 Hellfires dalam persediaan .

"Saya tidak berpikir Anda bisa menilai kampanye di sejumlah serangan udara," kata Raymond. "Ini adalah operasi udara dan darat ... Angka-angka tersebut akan surut dan arus. Jadi penurunan pengeluaran senjata bulanan ... ini sebagian besar disebabkan oleh sukses re-take Ramadi [di Irak] dan beberapa operasi lain di Suriah dan Irak Utara. Jadi jangan hanya melihat angka-angka "dari serangan udara.

Selain mempersenjatai pesawat dipiloti dan tak berawak sendiri, Angkatan Udara juga telah menyediakan rudal dan bom ditembakkan oleh mitra koalisi, praktek dimana AS akan diganti, kata Raymond.

mitra koalisi yang telah dilakukan serangan udara di Irak termasuk Australia, Belgia, Kanada, Denmark, Perancis, Inggris, Yordania dan Belanda. Dalam kampanye melawan ISIS di Suriah, negara-negara telah bergabung juga dengan Bahrain, Arab Saudi, Turki dan Uni Emirat Arab.

Raymond tidak mengatakan yang amunisi khususnya Angkatan Udara ingin memesan untuk setiap operasi di masa depan, ia juga tidak bisa mengatakan yang pemasok layanan telah dihubungi. Namun dia mengatakan produsen "yang upping kapasitas mereka untuk membangun mereka untuk kita."

Pembuat amunisi termasuk Raytheon Co, berbasis di Waltham, Massachusetts, dan Lockheed Martin Corp, yang berbasis di Bethesda, Maryland.

Angkatan Udara telah terbang lebih dari setengah dari sekitar 87.000 sorti koalisi-bangsa sejak kampanye melawan ISIS mendapat berlangsung pada tahun 2014. Itu termasuk sekitar 67 persen dari 11.000 serangan udara, katanya. Layanan ini saat melakukan sekitar 25 misi tempur setiap hari.

Angkatan Besenjata Pemerintah Suriah Merebut Kembali Palmyra dari ISIS

Syrian pro-government forces stand near the Palmyra citadel on March 26 during a military operation to retake the ancient city from the Islamic State group.
Pasukan Suriah yang didukung oleh serangan udara Rusia melaju Negara Islam dari Palmyra pada hari Minggu, media pemerintah dan kelompok monitoring oposisi mengatakan.

Pasukan pemerintah telah menyerang selama hampir tiga minggu untuk mencoba untuk merebut kembali kota pusat, yang jatuh ke ISIS pada bulan Mei. The merebut kembali dari Palmyra berakhir pemerintahan kelompok teror atas sebuah kota yang terkenal reruntuhan berusia 2.000 tahun sekali menarik puluhan ribu pengunjung.

Wajah mereka menandai kemunduran terbaru yang diderita oleh ISIS, yang telah datang di bawah tekanan di beberapa bidang di Irak dan Suriah.

"Angkatan bersenjata dan kelompok komite pertahanan populer telah sepenuhnya menguasai Palmyra," Negara TV mengutip seorang pejabat militer tak dikenal yang mengatakan. Komite pertahanan populer adalah milisi bersekutu dengan pasukan Presiden Bashar Assad.

Pejabat militer menambahkan bahwa pasukan sekarang pembongkaran jebakan peledak yang ditanam oleh gerilyawan ISIS.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia menegaskan bahwa Negara Islam kehilangan sendiri, mengatakan ada sekitar 400 kematian di antara para ekstremis, menurut Sky News. Aktivis menambahkan bahwa beberapa pejuang menarik diri dari Palmyra menuju kota Sukhna dan daerah lain di provinsi Homs.

"Itu kerugian terberat yang ISIS telah dipertahankan dalam satu pertempuran sejak pembentukannya," kata Direktur Observatorium Rami Abdel Rahman Sky News. "Ini adalah kekalahan simbolis untuk ISIS sebanding dengan yang di Ayn al-Arab."

Pada hari Sabtu, menteri pertahanan Rusia mengatakan jet-jet Rusia dilakukan 40 sorti udara di dekat Palmyra di hari terakhir, memukul 158 target dan membunuh lebih dari 100 militan.

Serangan udara Rusia telah memberikan pasukan pemerintah dorongan pada sejumlah bidang dalam beberapa bulan terakhir.

Televisi pemerintah Suriah menyela program normal untuk mengudarakan film dokumenter tentang kota dan situs arkeologi. TV sebelumnya ditayangkan lagu nasional serta video yang dirilis sebelumnya oleh ISIS menunjukkan pejuangnya melakukan kekejaman di Suriah dan Irak.

"Ini 10 pagi waktu Palmyra. Pagi kami adalah menang," kata seorang penyiar TV.

Kemudian reporter TV berbicara langsung dari dalam Palmyra, yang menunjukkan tentara di pusat kota. Beberapa bangunan di dekatnya telah menjadi puing-puing.

Palmyra, yang dikenal sebagai "Bride of the Desert," digunakan untuk menarik puluhan ribu wisatawan setiap tahun. ISIS mengusir pasukan pemerintah dalam hitungan hari dan kemudian dibongkar beberapa monumen paling terkenal di situs warisan dunia UNESCO. Para ekstremis percaya reruntuhan kuno mempromosikan penyembahan berhala.

Negara Islam juga telah digunakan amfiteater kuno Palmyra sebagai tempat untuk eksekusi publik, termasuk pemenggalan kepala mantan barang antik kota, Sky News melaporkan.

Para militan juga dibongkar penjara Tadmur terkenal kota, di mana ribuan lawan pemerintah Suriah dilaporkan telah disiksa.

The Associated Press memberikan kontribusi untuk laporan ini.

Indonesia Tolak Ajakan Arab Saudi Gabung ke Aliansi Militer Lawan ISIS

Indonesia Tolak Ajakan Arab Saudi Gabung ke Aliansi Militer Lawan ISIS
Pemerintah Indonesia telah menentukan sikap terkait upaya pemberantasan tindak pidana terorisme dan radikalisme yang semakin menjamur. 

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin bergabung dengan aliansi militer mana pun untuk memerangi terorisme. 

Hal itu ia utarakan saat bertemu dengan semua jajaran Pemerintah Daerah Riau dan aparat keamanan TNI dan Polri di Pekanbaru, Rabu (2/3/2016). 

Dalam kesempatan tersebut, Menko Polhukam memberikan penjelasan dan koordinasi dalam rangka mengantisipasi gangguan anarkisme, radikalisme, dan terorisme di daerah. 

Menurut keterangan Luhut, Indonesia telah menolak permintaan Menteri Pertahanan Arab Saudi untuk bergabung dalam satu aliansi militer dalam menghadapi ISIS.

"Indonesia sikapnya jelas. Seperti yang saya singgung tadi, kita tidak ingin mengulangi kesalahan yang dibuat oleh negara lain," ujar Luhut di Pekanbaru, Rabu (2/3/2016). 

Luhut mengatakan, negara-negara lain telah melakukan kesalahan dengan menggunakan kekerasan untuk menanggulangi ISIS. Indonesia tidak akan mencontoh negara lain yang mengedepankan kekerasan dalam menanggulangi terorisme. 

Ia pun menjelaskan Indonesia tetap menggunakan pendekatan lunak (soft approach). Artinya, pemerintah memilih agama dan budaya ketimbang mengerahkan kekuatan militer. 

"Afganistan gagal, Suriah gagal, India pun gagal. Ini menunjukkan pendekatan agama dan budaya lebih bagus dari pendekatan militer," ujarnya.

Gadis Remaja Swedia Berhasil Lolos dari ISIS

ISIS di Suriah
Seorang remaja asal Swedia berusia 16 tahun berhasil diselamatkan dari kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Dia mengaku menjalani hidup yang sangat berat semasa berada di bawah kuasa ISIS.
Dilansir dari situs Reuters, Rabu, 24 Februari 2016, gadis yang tidak disebutkan namanya itu dijebak oleh kekasihnya sendiri sehingga masuk ke 'perangkap' kelompok teroris.

"Saya bertemu dengan pacar saya pada pertengahan tahun 2014. Saya bertemu dengannya setelah dikeluarkan dari sekolah di Swedia. Awalnya, hubungan kami baik-baik saja sampai suatu saat pacar saya mulai memperlihatkan video-video ISIS dan selalu membicarakan mereka," kata gadis malang itu.

Ia melanjutkan, pacarnya kemudian mengaku ingin bergabung dengan ISIS. Sang gadis pun mempersilakannya, karena dia sendiri sebenarnya tidak mengerti apa itu ISIS atau agama Islam.

Akhirnya, sejoli itu meninggalkan Swedia pada Mei 2015 menggunakan bus untuk melintasi Eropa hingga mencapai perbatasan Turki untuk kemudian memasuki Suriah.

Sampai di sana, militan ISIS kemudian mengangkut mereka dan pasangan lainnya ke Kota Mosul dan menempatkan mereka pada sebuah rumah tanpa fasilitas listrik maupun air.

"Saya tidak memiliki uang dan kehidupan di sana sangatlah sulit. Untunglah, saya masih memegang telepon seluler dan masih terdapat sinyal. Saya segera menelepon ibu lalu bilang kalau saya ingin pulang," ujar sang gadis.

Beruntung, gadis ini bisa diselamatkan pada 17 Februari 2016 dan segera diserahkan oleh otoritas Swedia di wilayah Irak.
"Di Swedia kami memiliki segalanya. Di sana (Suriah) saya mengalami hari-hari yang sangat sulit dan itu tidak bisa saya lupakan," tuturnya. 

"Sniper" SAS Bunuh Algojo ISIS Saat Sedang Latihan Memenggal

Seperti inilah senapan Dan .338 yang digunakan penembak jitu pasukan elit Inggris SAS untuk menembak para algojo ISIS di Suriah.
"Suatu saat dia masih berdiri di sana dan menit berikutnya kepala orang itu meledak."

Demikian seorang saksi mata menggambarkan detik-detik peluru senapan milik seorang sniper pasukan khusus Inggris, SAS, menewaskan seorang algojo ISIS.

Ironisnya, sang algojo tewas saat tengah melatih anggotanya berbagai cara memenggal kepala manusia ketika kepalanya hancur.

Menurut sejumlah laporan, sang sniper melepaskan tembakan dari jarak setidaknya 1.200 meter.

Harian The Daily Express, mengutip seorang sumber, menyebut senjata yang digunakan sniper itu adalah Dan.338 yang dilengkapi peredam untuk mengurangi suara dan menghilangkan percikan api saat peluru dilepaskan.

Dan.338 adalah senapan penembak jitu buatan Israel yang dibuat mampu menembakkan peluru secara akurat dari jarak hingga 1.200 meter.

Peristiwa ini dikabarkan terjadi sekitar dua pekan lalu di sebuah gurun terpencil di wilayah utara Suriah, menyusul sebuah informasi dari mata-mata intelijen Inggris, MI6.

Militer menerima informasi bahwa pelatihan taktis ISIS digelar di sebuah desa kecil di dekat sebuah sekolah.

Di tempat itu, para rekrutan muda ISIS dilatih memenggal kepala dengan menggunakan pisau, kapak, atau pedang.

Kawasan itu dianggap terlalu sulit untuk diserang lewat udara sehingga dikirimlah pasukan elite SAS untuk melaksanakan tugas itu.

Sebanyak delapan orang prajurit dikirim ke lokasi dengan dipersenjatai senapan sniper, senapan serbu, dan peluncur roket.

Sebanyak 12 personel SAS lainnya menunggu di lokasi yang jauh di dalam sebuah kendaraan angkut militer lapis baja. Demikian dilaporkan The Mirror.

Tak dijelaskan apakah serangan ini dilakukan sebagai pembalasan atas eksekusi lima mata-mata Inggris sebagai sebuah ancaman terhadap PM David Cameron.

Identitas sasaran sejauh ini tidak dipublikasikan, tetapi kemungkinan orang itu adalah Siddharta Dhar, pria warga negara Inggris.

Siddharta diyakini menggantikan posisi Jihadi John, algojo ISIS yang tewas dalam serangan drone akhir tahun lalu.

Pekan lalu, dikabarkan seorang sniper misterius menewaskan tiga komandan ISIS di kota Sirte, yang diklaiim sebagai ibu kota di Libya dalam jangka waktu 10 hari.

Identitas sang penembak tak diketahui, tetapi penduduk setempat menjulukinya sebagai "Pemburu Daesh", sebutan ISIS dalam bahasa Arab.

Ketiga korban sang sniper termasuk Hamad Abdel Hady, seorang warga Sudan, ketua pengadilan ISIS yang ditembak di depan rumah sakit; pemimpin ISIS di Sirte, Abu Mohammed Demawi, yang tewas pada 19 Januari; dan Abdullah Hamad al-Ansari, komandan ISIS di kota Obari.