Mengenal lebih jauh lagi tentang Mig-29

Fitur

MiG-29 menggabungkan sebanyak mungkin antara ukuran besar dan dalamnya (larger and deeper) leading-edge root extensions (LERXs) yang memungkinkan manuver dengan sudut serang yang tinggi. Pada ujung sayap (leading edge) terdapat kisi-kisi tambahan untuk lubang masuk udara dimana berguna ketika lubang masuk udara (inlet) tertutup ketika di darat dan terbuka ketika take off (mengudara). Teknik ini berguna untuk menghindari kotoran dan debu masuk ke dalam mesin ketika berada di taxi way menjelang lepas landas atau mendarat, yang dapat merusak mesin.

Photo : Wikipedia
Hidung pesawat yang berukuran cukup besar dimaksudkan untuk menempatkan radar yang berdaya jangkau tinggi serta berkemampuan lihat-tembak-bawah (look-shoot-down), penuntun laser dan peralatan sensor inframerah serta menempatkan helmet-mounted target-designation system. Sekalipun tidak dilengkapi dengan sistem kontrol fly-by-wire sebagaimana F-16 misalnya, MiG-29 Fulcrum memiliki kemampuan baik untuk menghadapi pesawat tempur buatan Barat.

MiG-29 memiliki kontrol Hidrolika dan sebuah autopilot 3 sumbu SAU-451, tetapi tidak sepertu Su-27, tidak ada sistem pengendali fly-by-wire. Meskipun begitu, pesawat ini amatlah lincah dengan performa elakkan instan dan bertahap yang baik, alpha bersudut tinggi dan ketahanan umum atas perputaran tak terduga. Rangka pesawat dibuat untuk bertahan atas manuver bertekanan 9 g (88&nsp;m/s2). Pengendalinya memiliki pembatas "lunak" untuk mencegah pilot melewati batas "g" dan alpha, tetapi pembatas tersebut bisa dilepas secara manual.

Pesawat MiG-29S adalah hasil upgrade (penambahan kemampuan) dengan sistem avionik, penambahan ukuran fuselage (badan pesawat) yang memungkinkan menampung bahan bakar yang lebih banyak. Salah satu varian lanjut adalah MiG-29M yang dilengkapi dengan kontrol fly by wire dan dilengkapi dengan HUD (head up display) dan peralatan kokpit pesawat secara digital (glass cockpit). Pada model ini, peralatan pintu tambahan pada lubang masuk udara (air intake) dibuang karena dianggap membebani seperti pada model-model terdahulu.

Sumber Penggerak

MiG-29 memiliki dua mesin turbofanKlimov RD-33 yang di antara keduanya memiliki spasi kosong yang cukup luas, memiliki daya dorong kering 50.0 KN (11,249 lb) dan afterburner 81.3 kN (18,277 lb). Mesin-mesin pesawat ini diberi angin melalui intake bersudut yang dipasang dibawah leading-edge extension (LERX), yang memiliki lerengan yang bisa bergerak untuk memungkinkan pencapaian Mach yang tinggi. Untuk beradaptasi dengan medan operasi yang kasar, corong pemasukan udara yang utama bisa ditutup seutuhnya dan menggunakan corong udara di atas fuselage untuk melakukan take off, pendaratan dan penerbangan ketinggian rendah, mencegah masuknya serpihan asing (FOD). Maka dari itu, mesin-mesin pesawat ini mendapatkan akan mendapatkan asupan udara dari corong LERX yang akan membuka secara otomatis begitu corong utama ditutup. Tetapi, varian terbaru dari keluarga pesawat ini, MiG-35, menghapus corong atas ini, dan mengadopsi layar penyaring di corong utama, seperti yang dipakai oleh Su-27.

Jarak Jelajah dan Sistem Bahan Bakar

Kapasitas bahan bakar internal dari MiG-29B hanyalah 4,365 liter didistribusikan melalui enam tanki bahan bakar internal, empat di fuselage dan satu di tiap sayap. Hasilnya, pesawat ini memiliki jarak tempur yang terbatas, yang sejalan dengan syarat awal dari penempur pertahanan titik Soviet. Untuk penerbangan yang berjarak lebih jauh, bisa dibantu menggunakan drop tank di tengah berkapasitas 1,500 liter dan, di batch produksi selanjutnya dipasang probe disamping kanan untuk aerial refueling, memungkinkan waktu penerbangan yang lebih jauh menggunakan fasilitas tersebut. Sebagian rangka Mig-29B telah di tingkatkan menjadi konfigurasi Fatback (Mig-29 9-13), yang menambahkan tanki bahan bakar internal yang dipasang di daerah dorsal. Varian lanjut, seperti MiG-35, bisa dipasangkan conformal fuel tank di daerah punggung, meskipun belum satupun yang memasuki masa bakti.

Kokpit

Kokpit Mig-29 memiliki centre stick konvensional dan pengendali laju di sisi tangan kiri. Pilotnya sendiri duduk di atas kursi pelontar zero-zero K-36DM Zvezda yang memiliki performa mengesankan untuk penyelamatan darurat.

Kokpit ini memiliki tombol konvensional, sebuah HUD dan sebuah helmet mounted display Shchel-3UM, tanpa kemampuan HOTAS ("hands-on-throttle-and-stick"). Fokus sepertinya diarahkan ke layout kokpit yang dibuat semirip mungkin dengan MiG-23 dan pesawat Soviet pendahulu lainya untuk mempermudah konversi penerbang, bukan kepada ergonomik. Meskipun begitu, Mig-29 memiliki pengindraan yang jauh lebih baik dari pesawat Soviet sebelumnya, dikarenakan dudukan tinggi dari bubble canopy. Model yang ditingkatkan memiliki "glass cockpit" menggunakan LCD multi-function display moderen dan HOTAS yang asli

Penjejak

Produk dasar dari Mig-29B memiliki fire control system radar RLPK-29 Phazotron (Radiolokatsyonnui Pritselnui Kompleks) sudah termasuk radar gelombang Doppler look down/shoot down N019 (Sapfir 29; NATO : 'Slot Back') dan komputer digital Ts100.02-02. Jarak penjejakan untuk sasaran sebesar penempur hanyalah 70 km (38 nmi) di aspek depan dan 35 km (19 nmi) di aspek belakang. Jarak untuk sasaran sebesar pembom kira-kira dua kali lipat lebih besar. 10 sasaran bisa diperlihatkan pada moda pencarian, tetapi radar haruslah mengunci salah satu sasaran untuk semi-active radar homing (SARH).

Penurunan performa ini berakar pada fakta bahwa radar N019 bukanlah rancangan baru. Tetapi sistem tersebut merupakan pengembangan lanjut dari arsitektur yang digunakan pada sistem Sapfir-23ML Phazotron, yang digunakan pada Mig-23ML. Selama masa rancang bangun awal dari Mig-29 pada medio-1970an, Phazotron NIIR ditugaskan membuat radar moderen untuk Mig-29. Untuk mempercepat pengembangan Phazotron mendasari rancangan barunya pada pengerjaan yang sedang dilakukan oleh NPO Istok pada program radar eksperimental "Soyuz". Untuk menambahkan, N019 pada awalnya dimaksudkan untuk memiliki planar array antena radar yang datar dan digital signal processing penuh, memberi jarak deteksi dan jejak sampai paling tidak 100 km terhadap sasaran berukuran penempur. Menimbang tingkat teknologi Soviet pada saat itu, ini merupakan target yang ambisius. 

Percobaan dan purwarupa dengan cepat memperlihatkan bahwa target tersebut tidak mungkin dicapai pada kurun waktu yang dibutuhkan, paling tidak pada radar yang bisa dimasukkan kedalam hidung Mig-29. Alih-alih merancang radar yang benar-benar baru tetapi bukanlah radar yang amat baik, Phazotron kembali ke versi dari antena Cassegrain dengan polarisasi terpilin yang digunakan dengan sukses pada Sapfir-23ML untuk mengurangi ongkos dan waktu. Sistem ini menggunakan analog signal processor yang sama dengan rancangan mereka seblumnya, dipadukan dengan komputer digital Ts100 rancangan NII Argon. Meskipun keputusan ini memberi sistem radar yang berguna untuk penempur baru, sistem ini mendapatkan cacat turunan dari rancangan sebelumnya. Ketergantungan pada teknologi tahun 1960an ini terus menghantui kemampuan MiG-29 untuk mendeteksi dan menjejak sasaran udara pada jarak yang tersedia pada rudal Vympel R-27 dan R-77, meskipun rancangan baru seperti Zhuk-M N010 digital yang baru memberi perhatian pada keterbatasan yang ada pada kemampuan memproses sinyal pada rancangan analog. Sebagian besar MiG-29 terus menggunakan radar analog N019 atau N019M, meskipun VVS sudah memperlihatkan keinginanya untuk meningkatkan semua MiG-29 yang tersedia dengan sistem digital penuh.

N019 lebih jauh dikompromikan oleh perancang dari Phazotron, Adolf Tolkachev yang berkhianat dengan menjual rancangan ke CIA yang nantinya berujung pada eksekusi mati pada tahun 1986. Untuk merespon semua masalah-masalah ini, Soviet mengembangkan dengan terburu-buru radar N019M Topaz untuk penempur MiG-29S yang ditingkatkan. Tetapi, VVS masih menunjukkan ketidakpuasan dengan kinerja sistem dan menginginkan peningkatan lebih lanjut. Pesawat yang ditingkatkan paling baru menawarkan radar Zhuk-M N010, yang memiliki antena radar planar array dan bukanya memakai piringan, meningkatkan jarak, dan memiliki kemampuan proses yang lebih superior, memiliki kemampuan melawan beberapa target dan kecocokan dengan R-77 (atau RVV-AE) (NATO: AA-12 'Adder'). Fitur berguna dari MiG-29 yang dibagi ke Su-27 ialah S-31E2 KOLS, sebuah laser rangefinder dikombinasi dengan IRST di dalam dudukan depan berbentuk bola mata di depan kanopi kokpit. Ini bisa dibawahi oleh radar atau digunakan sendiri, dan memberikan akurasi gun laying yang di atas rata-rata.

Persenjataan

Persenjataan untuk Mig-29 termasuk sebuah meriam 30 mm GSh-30-1 di pangkal sayap kanan. Awalnya memiliki magasen berisi 150 peluru, yang nantinya dikurangi menjadi 100 peluru di varian akhir. Mig-29 orisinil tidak bisa menembakan meriamnya apabila menggotong tangki bahan bakar sentral karena menghalangi ejeksi kasing peluru. Isu ini di atasi pada MiG-29S dan versi setelahnya. 3 pylon di pasang pada setiap sayap (empat pada beberapa varian), dan jumlah totalnya enam atau delapan cantelan senjata. Cantelan inboard bisa membawa tangki bahan bakar 1,150 liter, satu buah rudal anti pesawat jarak menengah Vympel R-27 (AA-10 "Alamo"), atau bom tak berpandu atau roket. Beberapa pesawat Soviet bisa membawa nuklir di cantelan inboard. Cantelan luar biasanya membawa rudal dogfight R-73 (AA-11 "Archer"), meski beberapa pengguna lama masih menggunakan R-60 (AA-8 "Aphid"). Sebuah tangki 1,500 liter bisa dipasangkan di tengah2 badan, di antara mesin, untuk penerbangan feri, tetapi tidak digunakan untuk penerbangan tempur. MiG-29B orisinil bisa membawa bom serbaguna dan pod roket tak berpandu, namun tidak bisa membawa munisi berpandu-presisi. Model yang ditingkatkan memiliki kemampuan berpandu laser dan bom elektro-optikal, juga rudal udara ke permukaan.

Sumber : Wikipedia

Ikuti kami di instagram @militerysindonesia

Artikel Terkait