Negara-negara yang menggunakan Jet Tempur Mig-29

Uni Soviet mengekspor MiG-29 ke beberapa negara. Karena penempur generasi ke empat mensyaratkan pilotnya untuk menjalani latihan ekstensif, infrastruktur pertahanan udara, dan peningkatan serta perawatan konstan, MiG-29 memiliki sejarah pemakaian yang bercampur aduk pada tiap angkatan udara.

Uni Soviet dan Rusia

Photo : Wikipedia
MiG-29 pertama kali tampak pada publik Barat ketika Soviet memamerkan pesawatnya di Finlandia pada Juli 1986. Dua MiG-29 juga dipamerkan pada Fanborough Airshow di Britania Raya pada September 1988. Tahun berikutnya, pesawat ini melakukan display terbang di Paris Air Show tahun 1989 dan terlibat dengan kecelakaan non-fatal selama akhir pekan pertama pameran tersebut. Pameran Paris Air Show hanyalah pameran kedua dair pesawat Soviet pada pamerandirgantara internasional semenjak 1930-an. Pengamat Barat terkesima dengan kemampuan yang terlihat dan kelincahan yang di atas rata-rata. Mengikuti disintegrasi Uni Soviet, sebagian besar dari MiG-29 memasuki masa bakti bersama Angkatan Udara Rusia yang baru terbentuk.

Tahun 1993 dua Mig-29 AU Rusia bertabrakan di udara dan jatuh menjauh dari publik pada Royal International Air Tattoo 1993 di Inggris. Tidak ada yang cedera di darat. kedua pilot eject dan mendarat dnegan selamat. Penyelidik menyimpulkan setelahnya bahwa kesalahan pilotlah yang menyebabkan tragedi tersebut, setelah salah satu pilot melakukan putaran terbalik dan menghilang dalam awan, pilot satunya kehilangan jejak wingman dan membatalkan kegiatan selanjutnya.

Pada 20 April 2008, Otoritas Georgia mengklaim sebuah MiG-29 Rusia menembak jatuh sebuah Hermes 450 UAV milik Georgia dan memberikan rekaman kejadian ketika MiG tersebut menembakkan rudal anti pesawat ke arah drone yang naas tersebut. Rusia membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada pilot yang di udara hari itu. Pemerintahan Abkhazia mengklaim bahwa pasukanya menembak jatuh drone tersebut menggunakan sebuah pesawat L-39 "karena drone tersebut melanggar kedaulatan udara Abkhazia dan melangkahi kesepakatan gencatan senjata."  Penyelidikan PBB menyimpulkan bahwa video tersebut autentik dan drone tersebut ditembak jatuh olej sebuah MiG-29 atau Su-27 milik rusa menggunakan rudal penjejak panas R-73. 

Angkatan Udara Rusia mengrounded semua MiG-29 milik mereka setelah terjadi kecelakaan di Siberia pada 17 Oktober 2008. Setelah kecelakaan ke dua di Siberia Timur pada Desember 2008 pihak berwenang Rusia mengakui bahwa sebagian besar MiG-29 mereka tidak siap tempur karena perawatan yang kurang. Umur pesawat juga faktor yang penting karena sekitar 70% MiG milik mereka terlalu tua untuk diterbangkan.  MiG-29 Rusia tidak mendapatkan pembaruan semenjak kolapsnya Uni Soviet. Ini terjadi karena AU Rusia memilih untuk meningkatkan Su-27 dan MiG-31. Pada 4 Februari 2009, AU Rusia kembali menerbangkan MiG-29.. Tetapi, Maret 2009, 91 MiG-29 Rusia membutuhkan perbaikan setelah diperiksa karena korosi; nyaris 100 MiG diperbolehkan terbang pada masa itu. Angkatan Udara Rusia memulai peningkatan MiG-29 versi awal mereka ke standar yang lebih terkini setara dengan MiG-29SMT.

India

India merupakan salah satu klien internasional pertama MiG-29. Angkatan Udara India (IAF) menaruh pesanan lebih dari 50 pesawat pada tahun 1980 ketika pesawat tersebut masih pada fase awal pengembangan. Semenjak asimilasi pesawat ini ke IAF dari tahun 1985, pesawat ini telah menerima berkali-kali modifikasi dengan avionik baru, sub-sistem, mesin turbofan dan radar. Versi peningkatan India yang dinamai Baaz (Bahasa India untuk Elang) dan menjadi komponen utama dari lini kedua armada udara IAF setelah Sukhoi Su-30MKI.

MiG-29 India digunakan dengan ekstensif pada Perang Kargil pada tahun 1999 di Kashmir oleh Angkatan Udara India untuk memberi pengawalan tempur kepada pesawat Mirage 2000, yang menyerang target darat menggunakan bom berpandu laser. Menurut sumber India, 2 MiG-29 dari skuadron 47 IAF (Black Archers) telah mengunci sasaran dua F-16 milik Angkatan Udara Pakistan yang berpatroli dekat dengan perbatasan untuk mengatasi inkursi dari pesawat-pesawat India, tetapi tidak menembak karena tidak ada deklarasi perang resmi yang dikeluarkan.[rujukan?]. MiG-29 milik India dipersenjatai dengan rudal udara-ke-udara beyond visual range tetapi F-16 Pakistan tidak.  

Sejarah operasional MiG-29 yang bagus di tangan India membuat mereka menandatangani kesepakatan baru dengan Rusia pada tahun 2005-2006 untuk meningkatkan seluruh MiG-29 milik mereka senilai US$888 juta. Termasuk di dalam kesepakatan tersebut, MiG India dimodifikasi untuk bisa menggelar rudal udara ke udara R-77RVV-AE (AA-12 'Adder'), yang juga dikenal sebgai Amraamski. Rudal ini sukses diujicoba pada Oktober 1998 dan diintegrasikan ke MiG-29 milik IAF. IAF juga memberi Perusahaan MiG kontrak senilai US$900 juta untuk meningkatkan 69 buah MiG-29 milik IAF. Peningkatan ini termasuk pemasangan avionik baru, dengan mengganti radar N-109 menjadi radar Zhuk-M buatan Phazatron. Pesawat ini juga dilengkapi dengan kemampuan tempur diluar-jarak-visual serta refuelling di udara untuk meningkatkan ketahanan waktu tempuh.[25] Tahun 2007 Rusia juga memberi Hindustan Aeronautics Limited (HAL) lisensi untuk memanufaktur 120 mesin turbojet RD-33 seri 3 untuk peningkatan MiG milik India. Peningkatan ini juga termasuk sistem pengendali senjata yang baru, kokpit yang ergonomis, rudal udara-ke-udara, rudal-udara-ke-permukaan yang berakurasi tinggi serta bom "pintar". 6 MiG-29 pertama akan ditingkatkan di Rusia sedangkan sisa 63 buah akan ditingkatkan di India di dalam fasilitas HAL. India juga memberi kontrak senilai jutaan dolar kepada Israel Airfcraft Industries untuk mengurus avionik dan sisistem dalam program peningkatan tersebut.

Maret 2009, Angkatan Udara India mengekspresikan kekhawatiran setelah 90 MiG-29 milik AU Rusia didaratkan . Setelah melaksanakan inspeksi yang mendalam, IAF menyatakan seluruh MiG-29 sudah diperiksa pada Maret 2009 . Pada penyingkapan yang dilaksanakan oleh Parlemen, Mentri Pertahanan A.K. Anthony mengatakan MiG-29 memiliki cacat struktural yang bertendensi mengakibatkan korosi di bagian sirip ekor. Rusia telah membagi temuan ini dengan India, yang muncul setelah kecelakaan Mig-29 Angkatan Udara Rusia pada Desember 2008. "skema perbaikan dan usaha pencegahan sudah dilaksanakan dan IAF belum menemui masalah serius mengenai isu ini", kata Anthony. meski prihatin dengan grounding yang dilakukan oleh Rusia, India mengirimkan 6 dari 78 Mig mereka ke Rusia untuk peningkatan pada tahun 2008. Program peningkatan ini di antaranya ialah pemasangan phased array radar (PESA) dan refueling di atas udara. Pada Januari 2010, India dan Rusia menandatangani kesepakatan senilai US$1.2 miliar yang mana Angkatan Laut India akan mengakusisis tambahan 29 MiG-29K, menjadikan total MiG-29K mereka ke angka 45 buah. [31] MiG-29K memasuki masa bakti di Angkatan Laut Indiapada 19 Februari 2010.  Peningkatan seluruh MiG-29 "Baaz" milik IAF mendekati standar MiG-29SMT, yang termasuk avionik terbaru, radar Zhuk-ME, mesin, sistem kontrol senjata sb., menguatkan kemampuan multiperanpesawat ini beberapa kali lipat. 

Yugoslavia

Yugoslavia ialah negara Eropa pertama diluar Uni Soviet yang mengoperasikan MiG-29. Yugoslavia menerima 14 MiG-29B dan 2 MiG-29 UB dari USSR pada tahun 1987. MiG-29 memasuki masa bakti di skuadron ke 127 Penerbang Tempur, bermarkas di Lapangan Udara Batajnica, utara Belgrade, Serbia. 

MiG-29 Yugoslavia hanya menemui sedikit pertempuran ketika terjadi perang sipil Yugoslavia, dan sebagian besar digunakan untuk serang darat. Beberapa Antonov An-2 yang digunakan oleh Kroasia dihacurkan ketika masih di darat, di lapangan udara Cepin didekat Osijek, Kroasia, oleh MiG-29 milik Yugoslavia, tetapi tidak ada korban dipihak MiG-29. setidaknya dua MiG-29 melaksanakan serangan udara di Banski dvori, tempat tinggal resmi dari pihak berwenang pemerintah Kroasia, pada 7 Oktober 1991. 

MiG-29 selanjutnya tetap berbakti di Republik Federal Yugoslavia. Karena adanya embargo senjata oleh PBB kepada Yugoslavia, kondisi MiG-29 mereka memburuk. Sebelum Operasi Allied Force dimulai pada tahun 1999, MiG-29 Yugoslavia sudah berumur 10 tahun, kekurangan spare parts dan perawatan yang benar. Maret 1999, Angkatan Udara Yugoslavia memiliki 11 MiG-29 yang dianggap bisa beroperasi.

Total enam MiG-29 ditembak jatuh pada Perang Kosovo, tiga di antaranya ditembak jatuh oleh F-15 AU AS, satu oleh F-16 AU AS dan satu oleh F-16 Belanda. Dan 1 pesawat, menurut pilotnya ditembak oleh friendly fire dari darat.  Empat lainya ditembak ktika masih ada di darat.  Beberapa sumber Rusia mengklaim sebuah F-16 ditembak jatuh oleh MiG-29 pada 26 Maret 1999,  tetapi klaim ini masih diperdebatkan, karena F-16C yang diperdebatkan tersebut mengalami kecelakaan di Amerika pada hari yang sama. 

Sebagian besar sejarahwan mengaitkan tertembak jatuhnya sebuah F-117 kepada komandan SAM Zoltan Dani.  Beberapa sumber mengklaim pesawat itu ditembak jatuh oleh sebuah MiG-29 yang dipiloti oleh Lerkol Gvozden Dukic,  yang merupakan nom de guerre dari Zoltan Dani.  

Angkatan Udara Serbia dan Montenegro terus menerbangkan sisa lima MiG-29 dari Yugoslavia setelah perang. Musim semi 2004, kabar tersebar bahwa operasi MiG-29 sudah dihentikan, karena pesawat tersebut tidak bisa dirawat.  Pada tahun 2007, kelima MiG-29 dikirim ke Rusia untuk di rekondisi dan ditingkatkan. Pada tahun 2008, MiG tersebut kembali bertugas bersama Angkatan Udara Serbia. Pada tahun 2009 sebuah MiG-29 Serbia kecelakaan, pilot dan satu prajurit di darat meninggal.

Jerman 

Republik Demokrasi Jerman ( juga dikenal sebagai Jerman Timur ) membeli 24 MiG-29 (20 MiG-29A, empat MiG-29UB), yang memasuki masa bakti pada tahun 1988-1989. Setelah jatuhnya Tembok Berlin pada November 1989 dan penyatuan kembali Jerman pada Oktober 19990, MiG-29 dan pesawat lainya dari Jerman Timur Luftstreikrafte der NVA diintegrasikan ke Luftwaffe Jerman Barat. Setelah peningkatan oleh DaimlerChrysler Aerospace (sekarang EADS) untuk kompabilitas dengan NATO, pesawat-pesawat ini dinamai MiG-29G dan MiG-29GT. pada Maret 1991, salah satu MiG-29 di gugus tugas Jerman ditransfer ke AU Amerika untuk melalui evaluasi, serta beberapa Su-22 dan MiG-23.

Federasi ilmuwan Amerika mengklaim bahwa MiG-29 setara atau melebihi F-15C di beberapa bagian seperti pertempuran udara jarak dekat karena Helmet mounted display(HMS) yang dimiliki MiG dan kelincahan yang lebih baik pada kecepatan rendah.  Ini dibuktikan ketika Luftwaffe berpartisipasi pada latihan gabungan DACT] bersama penempur Amerika.  HMS yang dipunyai MiG menjadi penentu, membuat pilot Jerman untuk mencapai lock-on yang terlihat di jarak tembak rudal, termasuk 45 derajat diluar boresight. Sebaliknya, penempur Amerika hanya bisa mengunci sasaran di depan kaca sempit yang ada di hidung pesawat. Pada tahun 2003 lah Angkatan Udara Amerika dan Angkatan Laut Amerika dapat memakai Joint Helmet Mounted Cueing System yang mekanismenya mirip dengan HMS.

Semenjak 1993 MiG milik Jerman ditugaskan bersama 1./JG73 "Steinhoff" di Laage dekat Rostock. Selama masa penugasan bersama "Luftwaffe" sebuah MiG-29 ("29+09") yang hancur karena kecelakaan pada 25 Juni 1996 karena kesalahan pilot. Pada 2003, pilot Luftwaffe telah menerbangkan lebih dari 30,000 jam terbang bersama MiG-29. September 2003, 22 dari 23 pesawat yang ada dijual ke Angkatan Udara Polandia dengan harga simbolis 1 Euro per buah.  Pesawat terakhir ditransfer pada Agustus 2004.[51] The 23rd MiG-29 ("29+03") was put on display at Laage. 

Polandia

ke 12 MiG-29 pertama (sembilan MiG-29A dan tiga MiG-29UB) dikirim ke Polandia pada tahun 1989-1990. Pesawat ini ditaruh di markas Minsk Mzowiecki dan digunakan oleh Resimen Penerbang Tempur Pertama, yang di reorganisir pada 2011 sebagai 1 Eskadra Lotnictwa Taktycznego (1. elt), atau Skuadron Taktis Pertama (TS). Tahun 1995, 10 percontohan dipakai dari Republik Ceko (sembilan MiG-29A dan satu MiG-29UB). Setelah mempensiunkan seluruh MiG-21 dan 23 pada tahun 2003, Polandia hanya memiliki 22 MiG-29 sebagai pengisi peran pencegat.

Pada tahun 2004 Polandia menerima 22 MiG-29 ex-Luftwaffe. Total 14 buah di overhaul dan memasuki masa tugas, melengkapi Skuadron Taktis 41 (41.elt) dan menggantikan MiG-21. 2011 Polandia memiliki 32 MiG-29 yang aktif (26 MiG-29A, enam MiG-29UB) yang akan bertugas hingga kira-kira 2012-2015. Mereka sekarang ditaruh bersama Skuadron Taktis ke 1 di Markas Udara ke 23 dekat Mińsk Mazowiecki dan Skuadron Taktis ke 41 di markas Udara ke 22 dekat Malbrok. Tahun 2008, Polandia ialah pengguna MiG-29 terbanyak di dalam organisasi NATO. Kemungkinan rekondisi penempur ini untuk bisa bertugas hingga 2025 sedang dibicarakan, tergantung bagaimana kerjasama dengan Mikoyan bisa dibuat.

Semenjak 2007, MiG mereka dibantu oleh F-16 blok 52+ dari TS ke 3 (menggantikan MiG-21) dan TS ke 6 (menggantikan Su-22), dari 2008 F-16 juga akan digunakan di TS ke 10 (menggantikan MiG-21).

Amerika Serikat

Pada tahun 1997, Amerika Serikat membeli 21 pesawat dari Moldova dibawah program Pengurangan ancaman Nunn-Lugar. Empatbelas merupakan MiG-29S, yang dilengkapi dengan pengacau radar aktif di punuknya serta mampu dilengkapi persenjataan nuklir. Sebagian motif dari pembelian pesawat-pesawat ini ialah untuk mencegah jatuhnya pesawat ini ke negara yang mereka anggap liar seperti Iran. [53] Pembelian ini juga memberi AU Amerika Serikat untuk mengevaluasi data MiG-29. Informasi tersebut bisa terbukti berharga di konflik yang mendatang dan bisa membantu rancangan dan pengujian dari platform persenjataan yang ada dan akan ada. Pada akhir 1997, MiG-MiG tersebut dikirim ke National Air and Space Intelligence Centre (NASIC) di Pangkalan Udara Wright-Patterson didekat Dayton, Ohio, meski banyak MiG-29 Moldova yang dibesituakan.

Irak

MiG-29 terlibat pertempuran pada Perang Teluk pada tahun 1991 bersama Angkatan Udara Irak. Lima MiG-29 ditembak jatuh oleh F-15 AU AS.  Menurut beberapa sumber Rusia, mengutip sumber Irak yang tidak dispesifikasi, mengklaimsetidaknya satu Panavia Tornado, ZA467, ditembak jatuh di Barat Laut Irak oleh MiG-29. Tetapi Tornado ini tercatat mengalami kecelakaan di tanggal 22 Januari dalam misi ke Ar Rutbah. 

Klaim serupa untuk kill udara-ke-udara dilaporkan oleh sumber-sumber Rusia untuk kasus lain tetapi sebenarnya terjadi karena sumber lain, seperti sebuah B-52 yang dijuluki "in HARM's way", karena tertembak di bagian ekor oleh AGM-88 rudal anti radiasi berkecepatan tinggi yang mengunci radar pengendali tembakan pada senjata ekor B-52; jet tersebut akhirnya dinamai "In HARM's Way". . Klaim Rusia lain ialah sebuah MiG-29 menembak jatuh sebuah F-14 tetapi AL AS membantah dengan mengatakan pesawat itu ditembak jatuh oleh rudal darat ke udara. 

Di semua kasus yang disebutkan sebelumnya tentang klaim kerusakan di dalam pertempuran oleh MiG-29, AUAS, ALAS dan AU Inggris telah menyimpulkan bahwa semua kerusakan dan kehilangan dari klaim tersebut semuanya disebabkan oleh alasan-alasan yang bertolak belakang. Bukti dengan bentuk rekaman kamera meriam pesawat, laporan-laporan saksi, analisis bangkai pesawat dan wawancara dengan pilot yang menembak jatuh pesawat-pesawat ini tidak ada sama sekali. Tetapi malah pilot Irak yang diwawancara, menyangkal kabar bahwa dia menembak jatuh pesawat koalisi. 

Setelah ke 37 armada pesawat MiG-29 Irak berkurang hingga 12 karena kehilangan 16 pesawat ketika perang, satu rusak dan evakuasi empat pesawat yang sekarang bertugas di Angkatan Udara Irak, yang sekarang juga membeli MiG-29 dari Rusia juga. Ke-12 pesawat iniakhirnya dipensiunkan pada tahun 1995 karena mesinnya mencapai TBO dan Irak tidak bisa mengirim mesin-mesin itu untuk di overhaul.  

Negara-Negara lain

Sebuah MiG-29UB Kuba menembak jatuh sebuah Cessna 337 yang dimiliki oleh organisasi Brothers to the Rescue pada tahun 1996, setelah pesawat itu mendekati zona udara Kuba.

Menurut beberapa laporan, pada Perang Ethiopia-Eritrea pada tahun 1999, beberapa MiG-29 Eritrea ditembak jatuh oleh Su-27 milik Ethiopia yang dipiloti oleh tentara bayaran Rusia.[63] Juga ada beberapa laporan mengenai MiG-29 milik Eritrea yang menembak jatuh dua MiG-21 dan tiga MiG-23 Ethiopia.

Ada juga laporan-laporan yang menyatakan bahwa pada 14 September 2001 dua MiG-29 milik Angkatan Udara Syria ditembak jatuh oleh dua IDF/AF F-15C ketika MiG tersebut mencegat sebuah pesawat pengintai Israel di pesisir Lebanon. Tetapi baik Syria dan Israel membantah kejadian ini pernah terjadi.

Rusia bergerak untuk memperluas pengaruh militernya di Timur Tengah ketika mereka mengumumkan pemberian 10 penempur jet ke Lebanon, yang merupakan peningkatan paling signifikan pada militer Lebanon setelah perang saudara berakhir hampir dua dekade lalu. Kementrian pertahanan Rusia menyatakan bahwa mereka memberi pesawat tersebut dengan cuma-cuma sebagai bagian dari kesepakatan pertahanan yang mana Moskwa akan melatih personel militer Lebanon pada masa depan.

Banyak beredar klaim-klaim tentang penggunaan MiG-29 Angkatan Udara Sudan untuk melawan pasukan pemberontak di Darfur. Tetapi, tidak seperti helikopter serbu Mi-24 'Hind' dan juga A-5 'Fantan' atau, yang lebih mutakhir, pesawat serang darat Su-25 "Frogfoot" yang terlihat dan tertangkap kamera di pangkalan udara Darfur, tidak ada MiG-29 yang terlihat disana. Pada 10 Mei 2008, sebuah kelompok pemberontak yang bernama Justice and Equality Movement (JEM) melaksanakan penyerangan ke ibukota Sudan. JEM mengklaim telah menembak jatuh sebuah MiG-29 Angkatan Udara Sudan menggunakan senapan mesin berat 12.7 mm dan 14.5 mm ketika pesawat itu sedang menyerbu konvoi kendaraan di pemukiman Khartoum Omdurman. Pesawat itu seharusnya dipiloti oleh tentara bayaran Rusia. Dia diklaim telah tewas karena parasutnya tidak terbuka setelah eject. Pemerintah Sudan membantah kehilangan tersebut.

Sipil

MiG-29 juga tersedia untuk penerbangan sipil. Penerbangan sipil ini dimulai karena adanya masalah finansial di Institut Penelitian Penerbangan Gromov di kota Zhukovsky. Penerbangan tersebut menggunakan Mikoyan-Gurevich MiG-21, Mikoyan Gurevich MiG-23, Mikoyan Gurevich MiG-25, MiG-29 dan Sukhoi Su-27 tetapi dihentikan pada Juli 2006, ketika penerbangan sipil di MiG-29 dan Mikoyan MiG-31 dimulai di Nizhny Novgorod.

Sumber : Wikipedia

Ikuti kami di instagram @militerysindonesia

Artikel Terkait