MENYERET GERBONG KAPITALISME, PEMUDA RELA BERSUMPAH


“Hutan perawan milik perawan hutan,
Batang kayunya telah mereka tebang
dan sekarang telah menjadi
emas batangan di bank-bank Switzerland”

—KH. HASYIM WAHID (GI), BUNGLON hal. 12

IFTITAH

Kisah Hanibal layak kita pelajari. Dia adalah komandan tertinggi tentara Cartago, rival utama kekaisaran Roma Eropa. Manusia ini selalu menggetarkan Roma yang dalam situasi itu sebagai negara super-power, radar utama geopolitik dunia. Seluruh Roma dalam ketakutan jika mendengar nama Hannibal, yang siap menyerbu Roma. Namanya tertinggi dan membakar kegetiran di penjuru kota, menjadi bunyi sirene tanda bahaya, Hannibal ante portas, Hannibal di depan pintu, dan bersiagalah.

Kini, Bangsa Asia berada di depan pintu, dan waspadalah dunia kolonial-Barat. Barat menggigil ketakutan, kegemetaran akan dilawan oleh para pemuda Asia atas penjajahannya, pemuda Asia yang mengerti betul, sadar situasi Perang Dunia I. Dan yang disebut Hannibal dari Asia mewujud dalam pribadi-pribadi pemuda Sutomo, Cipto Mangun Kusumo, Soekarno, Tan Malaka, Hatta, Wahid Hasyim dari Indonesia. Sekaliber Gamal Abdul Nasser, Jawarhal Nehru, Mahatma Gandhi, Mao Zedong, dan lainnya. Kemenangan para pemuda Asia melawan Rusia, Italy, Portugis, Spanyol, Belanda, Jepang dan NICA bukanlah tanpa makna. Kenyataan ini menandai bahwa Bangsa Asia, tidak jadi bangsa terendah di tengah bangsa-bangsa dunia. Di bumi Indonesia, kemenangan ini seperti lecut yang menggobarkan nasionalisme yang melahirkan Revolusi Pemuda. Pemuda adalah sang sejarah, menjadi pembela bangsanya dari dunia gelap kolonialisme purba.

Bangsa Asia kini oleh Kishore Mahbubani dalam The Great Convergence, Asia, The West and The Logic of One World (2013) dikatakan memiliki takdir sejarah, yakni geografi, geography is destiny. Indonesia salah satunya yang ditakdirkan bernatur maritim, lautan. Kekayaan alam, dari mulai hasil laut dan hasil darat, semuanya ada di bumi Nusantara. Hutan yang melimpah-ruah, tapi dijarah dan dibakar oleh para penjarah, cukong. Geografi Indonesia, itulah anugerah yang Maha Kuasa, tapi yang terjadi justru paradoks, terjadilah senandung penjarahan dari dulu hingga sekarang. Bukannya menjadi kekuatan besar dilevel internasional, playmaker utama di kawasan ASEAN, tapi sebaliknya. Dipundak pemuda, nasib bangsa kini ditentukan.

SADAR SITUASI DAN KONDISI

Ketahuilah, masa lalu ialah prolog, lihatlah para pemuda setelah pengagas konsolidasi Sumpah Pemuda 1928, jauh lebih canggih, berpikir kelas raksasa dari warna-warni ideologi, tidak mikir selebar isi dompet, mampu membaca situasi internasional saat itu. Kita bisa melihatnya dari Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Kiai muda Wahid Hasyim dan tokoh Islam lainnya yang berperan besar dan punya gagasan besar, levelnya bener-bener raksasa. Jangan heran bila para pemuda itu bisa mengerti, memperkirakan dan memainkan konflik skala internasional yaitu Perang Dunia II tahun 1939. Tahun 1945, para pemuda itu bertemu dalam intensitas yang tinggi untuk mengantisipasi patahan sejarah selesainya PD II. Dalam hitungan mingguan terjadilah Proklamasi Kemerdekaan Bangsa indonesia, 17 Agustus 1945.

Pemuda Soekarno berhasil memanfaatkan situasi dan mencuri momen. Hal ini dilakukan ‘pemuda nakal’ yang cinta bangsa, yang ‘menginapkan Soekarno-Hatta’ di Rengas Dengklok Karawang.Para pemuda sukses memainkan peran yang sangat baik dengan cara mempermainkan geng negara-negara penjajah yang s edang terlibat dalam pertarungan. Yaitu dengan cara ‘bermain mata’ dengan Jepang yang telah mengalami kekalahan dari geng sekutu. Itulah kemahiran akrobat politik Sukarno, yang tidak digambarkan secara apik dalam film Sukarno (2014), oleh Hanung Bramantyo. Bahkan digambarkan sebagai play boy, kacau emang dia.

Zaman telah berubah, musim berganti dan bumi yang bergolak. Setiap generasi mempunyai masalah dan tantangannya sendiri. Dalam lintasan dunia yang makin global, Indonesia yang masih terseret kapitalisme, kita kembali mengenang Sumpah Pemuda yang dulu sebagai jawaban para pemuda terhadap dosa-dosa kolonialisme, perbudakan bangsanya, terjajah dan terjarah. Sumpah Pemuda masih relevan di hati dan pikiran kita. Pemuda adalah bagian yang takkan terpisahkan dari perjalanan bangsa, sebuah negeri yang bernama Indonesia. Peringatan Sumpah Pemuda yang diselenggarakan setiap bulan Oktober serasa kembali membakar, menyiramkan bensin di masa kini. Memandang lagi, perjuangan pemuda yang sangat luar biasa. Tak kaget jika peneliti asing bernama Ben Anderson sangat terpesona dengan kehebatan pemuda, tidak sungkan menamai Revolusi Indonesia, sebagai Revolusi Pemuda. Tak pernah ada titik sejarah di mana pemuda memainkan peranan sendiri. Menetapkan nasib bangsanya.

Kongres Pemuda Indonesia Pertama 1926 hanya suatu episode pemuda bangsa ini, yang disusul dan ditutup oleh episode yang baru seperti Kongres Pemuda 1928. Bayang-bayang Sumpah Pemuda 1928 dengan seribu masalah yang mampu dijawabnya, akan terus menyelinap dalam renung hati kita, masuk ke masa kini. Apakah bangsa ini masih tetap bersatu-padu? Apakah nusa bangsa sudah bersinar, maju di tengah pergaulan antar bangsa-bangsa dunia? Yang terjadi sungguh tragis, krisis demi krisis kebangsaaan masih membahana, mengharu-biru, rakyat makin sengsara dan melarat di tengah serbuan paham neo-liberal dan radikalisme religius, yang saat ini dibentrokan di negeri ini: bentrok Sunni vs Syi’ah. Strategi baru modifikasi Devide it Impera, yang membuat Indonesia sempal, porak-poranda dan hancur.

Inilah soal bila kita sebagai pemuda harus menyelesaikan sejarah bangsa. Kalau tak sanggup diselesaikan, Sumpah Pemuda 1928 hanya tinggal menyungging senyum kecut di ujung bibir, kita akan jadi beban dan sampah sejarah di abad 21 ini, tak mampu menjawab pertanyaan zamannya sendiri. Pemuda yang pasif, hambar, datar, cenderung bernostagia dan berkutat pada rumus-rumus lama, bahkan jadi pemuda pemalas, kalah dengan pemuda India, Turki, Korea, Iran, Cina, Yahudi dan Barat terkini. Dengan nafas dan semangat inilah, kita mesti sadar situasi dan kondisi, bergerak menjawab dan hadapi zaman. Menyambung apa yang telah dirintis para pendiri bangsa. Jazakumullah khairan katsiran.

INDONESIA ADALAH PEMUDA

Julian Benda dalam bukunya The Treason of The Intellectual memaparkan tentang siapa pemuda,”Pematangan diri dan studilah yang dipilihnya bukan glamor seorang politikus…”. Banyak Para sejarawan memberikan paparan terkait pemimpin Indonesia seperti Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Wahid Hasyim, semasa mudanya mereka bisa mengatur hidup menurut cita-cita dan peran yang mereka idamkan. Diri mereka ditempa, tidak ditakdirkan, apalagi mengekor bapak-ibunya, mereka menampilkan dirinya sebagai pembela, bangkit bersaksi. Tampil memimpin sebagai bentuk perjuangan dari bangsanya yang tertindas, ditindas puluhan tahun. Mereka adalah intelektual sejati, dalam bahasa Karl Manheim, mereka memiliki klaim menjalankan kekuasaan bangsa, bukan karena latar belakang sosialnya, dan pendidikan Baratnya“ tetapi berkuasa karena mereka adalah intelektual”.

Tidak ada yang lebih penting daripada saat getir dan mengharu-biru, ketika para pemuda menetapkan nasib bangsanya yang sekian lama dicengekeram Portugis, Inggris, Belanda, Inggris, Jepang dan geng NICA. Apa yang terjadi, hanya hati yang mengerti, orang banyak tidak usah mendengar. Rakyat hanya ingin melihat dan merasakan bukti kesungguhan hati pemuda ketika menetapkan nasib bangsanya. Rakyat tidak minta diajak berunding. Mereka mengharap hasil perundingan bisa meringankan bebannya, mengusap derita, duka citanya. Selama cita-cita itu masih berupa rencana, layak disimpan dalam hati, baru jika cita-cita telah menjelma sebagai sesuatu yang nyata, orang lain boleh mendengar karena telinga telinga tidak percaya dengan cita-cita, mata hanya ingin melihat yang nyata. Rasa bahagia belum tercipta dalam rencana, adanya hanya akibat kerja pergerakan. Rakyat baru percaya jika bahagia itu jika sudah dirasakan.

Itulah, kerja pergerakan pemuda Sutomo dan sahabat-sahabatnya yang mau keluar dari zona nyaman dengan bukti kerjanya untuk mewujudkan cita-citanya. Disinilah letak kepandaiannya, itukah hikmah kerjanya. “Allah ternyata memberikan bantuan-Nya, karena kami memang bermaksud baik,” kata Sutomo saat mendirikan perkumpulan bumi putera Budi Utomo. “Carilah kekuatan dalam dirimu sendiri dulu, selanjutnya Tuhan akan menolongmu”, itulah semboyan ampuh para pemuda intelektual, leluhur kita semua mampu menggerakkan bangsanya untuk merdeka dari belenggu penjajahan pikiran dan fisik sebagaimana tugas para Nabi.

Para pemuda tampil di tengah-tengah sejumlah ide gagasan, karena ide gagasan adalah revolusi, jika ditambah tindakan dan hasil. Tiap ide gagasan para pemuda, tindakan dan hasil rupanya mewarnai setiap sejarah yang terbentang dalam zamannya, Kemerdekaan bangsa dari mulai benua Asia, Afrika dan Amerika Latin. Pemuda dengan visi, kekuatanya itu memunculkan Indonesia sebagai negara, bangsa dan bahasa. Ini semua hanya digapai dengan kemauan radikal, akumulasi pengetahuan dan cinta Tanah Air yang tinggi. Sebab, tanpa itu ia gampang ditipu dalam perundingan atau diplomasi yang sudah di set-up oleh para konspirator dunia. “Akan kuperas Indonesia, seperti halnya kain pel”, kata petinggi Amerika Serikat wa ashabihi masa kini. Semoga Presiden Jokowi memahami itu, yang saat ini berada di Gedung Putih Amerika Serikat.

Keluarkanlah bangsamu dari kegelapan menuju pencerahan, demikian ayat Al-Qur’an menggobarkan tujuan pemuda. Pemuda mesti memahami ada binar cinta bahwa kehidupan di bumi manusia ada tujuan dan visi. Kesadaran sebagai pemuda memang merupakan satu syarat untuk majunya bangsa. Bukan kesadaran naif yang terlena dalam cumbuan dunia, silau gemerlap satuan meter, abai terhadap kenyataan sosial bangsanya yang dijarah para begal kelas internasional. Seperti adegan yang membuat hatimu dan hatiku menangis karena senandung penjarahan bangsa-bangsa oleh bank yaitu film International (2009). Memahami ucapan Umberto Calvini dari Italia, sebelum ditembak mati oleh sniper suruhan mafia global,“You control the debt, you control everything”. Dan nasib negeri kita, sudah terjerat oleh utang bank internasional dan dikontrolnya. Sungguh mengerikan Republik ini, situasi ini yang mesti disadari pemuda. Karena sesungguhnya, merekalah pewaris utang negara.

SEKARANG, MAU APA PEMUDA?

buku MOSSAD yang ditulis oleh Dennis Eisemberg dikatakan bahwa bangsa Yahudi Israel berpegang dalam ayat-ayat pergerakan yaitu,”Akan tiba waktunya bagi suatu negara kecil yang berdaulat, yang lapisan pertahanannya adalah pengetahuan”. Kalimat yang dibuat oleh Charles Proteus Steinmetz, seorang ilmuwan Yahudi kelahiran Jerman sungguh mengilhami seluruh rakyat Israel hingga detik ini. Bisa jadi dia adalah nabi karena nubuatnya itu, dengan ketepatan dan mengejutkan dunia Islam dan Barat.

Lalu ada nyonya Golda Mayer, mantan Perdana Menteri Israel pertama dalam memoarnya berjudul Malice, bercerita bahwa fase kehidupannya, perempuan itu harus bekerja keras, bergerak selama 16 jam sehari. Demi cita-citanya, perjuangan prinsipnya dia lalui demi mewujudkan negara Yahudi, Israel Raya. Sukses, menjadi negara hebat di muka bumi, bersama Ben Gurion. Begitu juga dengan Menteri Pertahanannya yang legendaris, bermata satu, Moses Dayan namanya. Di bukunya berjudul The sword and Rule, dia berkisah harus terbang dari daerah satu ke daerah lain, kota, negara satu ke negara lain, pagi siang dan malam. Secara sembunyi-sembunyi, bawah tanah maupun terang-terangan bergerak demi cita-citanya. Sama, ingin bentuk negara Israel yang berkuasa, setia dengan pergerakannya. Mereka bertekad kuat dengan visi sejarah nenek moyangnya, seperti yang diilustrasikan dalam film Exodus: God & Kings (2014), di bawah sutradara Ridley Scoot (Gladiator dan Kingdom of Heaven). Bahkan jika kita nonton film The Debt, perempuan mulus jadi agen intelijen MOSSAD. Apa kita ngga’ ngedrop? Lihat perjuangan pemudi 25 tahun menyelamatkan bangsa Israel dari genosida fasisme Jerman. Nasionalis banget!

Terus, kita sebagai pemuda Indonesia kudu piye? Sayang sekali memang, orang seperti mereka, justru lebih bisa tunjukan keuletan dan tekadnya seperti ini. Sebaliknya kaum muda Islam dan Indonesia, justru jadi pemalas, tidar-tidur. Kita semua terlena, lalai, jadi generasi muda Islam yang sama sekali tidak pernah berbuat apapun, meski satu jam saja. Kita semua larut dalam main-main, makan, minum, tidur dan menghabiskan waktu dengan sia-sia, percuma tanpa berbuat. “Waktu adalah pedang,” demikian Sayyidina Ali berpetuah kepada kita, begitu menggiris kalbu. Pemuda dijinakan oleh waktu dan dikendalikan keadaan. Lihatlah pemuda, bangsa kita Indonesia kalah dengan tekad dan cita-cita orang Yahudi. Belum lagi kita kalah dengan bangsa Cina, India, Barat, Rusia, Latin, Turki, Korsel, Iran dan bangsa lainnya dari progresifitas sejarah, sains dan teknologi. Bahkan dibilang oleh sebagaian orang sebagai bangsa gagal (the failed state).

Peran pemuda terus berjalan dengan segala turun naiknya cuaca dan waktu hingga kini, kita masih berdiri, tersenyum, menyerap energi Sumpah Pemuda. Memahami inti persoalan bangsa yang mendera dari Sabang sampai Merauke. Dari soal korupsi, asap di penjuru negeri sampai Freeport. Kapan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan terwujud? Kini, pemuda menghadapi masalahnya sendiri, ‘memikirkan dirinya saja tidak mampu apalagi memikirkan bangsanya’ kata guru Tasawuf. Pemuda kini diupayakan dan dikondisikan hidup di dalam sebuah ruang ‘steril’, tidak ada kontak dengan masyarakat, dan masalah sosial nyata yang mengiris kalbu, pemuda sudah dijinakkan. Manusia fatalis memang. Manusia yang tidak ada daya kritis, daya juang, daya kreativitas, jiwa kepeloporan, keinginan berprestasi, hasrat inovasi, dan jiwa kosmopolitan, yang bersama-sama mampu membangun sebuah masyarakat yang tidak lagi dikendalikan oleh sel-sel asing (kapitalisme, globalisasi, radikalisme), tetapi secara kreatif mampu memproduksi nilai budaya bangsa sendiri. Pemuda kini tak mampu jawab globalisasi, pemuda hanya jadi konsumen produk-produk Kapitalisme, terseret dan menyeret gerbong buatan manusia berhati racun cinta dunia.

Bahkan muncul pernyataan dari pemuda saat ini. Apa urusan kami dengan persoalan bangsa? Sumpah Pemuda 1928, Resolusi Jihad 1945, lautan massa aksi 1990-an sampai Mei 1998 tidak sedang bertarung demi kekuatan-kekuatan elite politik. Generasi kami adalah generasi yang, sekali lagi tak ingin membaca buku-buku lebih tebal, menikmati kebebasan berpikir dan berpendapat, tidak takut bertemu dengan tentara di lapangan, bermimpi tentang era Tinggal Landas bukan tinggal di landasan. Sebagai salah satu negara pemimpin baru di kawasan Asia. Pemuda yang sedang menikmati revolusi Tripple T: Technology, Telecommunication and Transportation. Pemuda yang sedang diharu-biru oleh globalisasi dan buku-buku karangan futurolog seperti Alvin Toffler, John Naisbitt dan bahkan Ziauddin Sardar dan penulis-penulis lain dari lintas agama. Generasi yang tak peduli dengan benturan peradaban dan berdebat tentang pikiran-pikiran Fukuyama, Friedman, Samuel Huntington, Brzezinsky karena tahu Indonesia adalah negara yang cinta damai dengan agama-agama besar dunia yang hidup bertetangga sejak kecil. Menurut temenku yang tercerahkan Fajar Ilham, mereka adalah ‘anak yatim’ belum sadar situasi dan kondisi kehidupan dan tujuan hidupnya dalam beragama dan berbangsa, tantangan zamannya.

Sangatlah tidak tepat pernyataan itu, pahamilah bahwa masa lalu adalah prolog untuk masa kini dan masa depan. Indonesiamu, Indonesia kita adalah masa kini, tapi ada karena masa lalu, dan mestinya digerakan pemuda untuk masa kini dan masa depan. Karena kejayaan bangsa hanya bisa ditransformasi merujuk masa lalu misalnya Jepang, Turki, Cina, Inggris dan lainnya. Pemuda seperti kita tetap berurusan dengan masa lalu, bertarung seperti pemuda bernama Dyah Wijaya dari Nusantara melawan Imperium Mongol, Kubilai Khan. Dan pemuda itu menang atasnya dalam pertarungan, menyelamatkan Asia, Afrika, dunia Islam dan Eropa-Barat dari terorisme global bernama Mongolia. Sekali lagi, dialah pemuda asli Nusantara, bukan pemuda asing, macam Lee Min Hoo, Brad Pitt dan Matt Damon.

AKHIRUL KALAM

Pemuda Indonesia lahir dan berkembang bukan sebagai manusia di persimpangan jalan, yang kebingungan dengan sikap kiri dan kanan. Tetapi pemuda lahir dengan identitas yang jelas, sebagai jangkar perubahan sosial bagi masa depan bangsa. Perubahan adalah nyata dan akan terjadi pada setiap zaman. Pemuda sangat dibutuhkan bagi bangsa ini sebagai penguat ideologi bangsa di tengah gempuran berbagai ideologi asing, sekaligus pengoreksi negara.

Pergerakan pemuda di bidang apapun mesti memberikan manfaat bagi pemberdayaan masyarakat, dan jalan lurus bernegara. Serta sebagai penguat ideologi bangsa Indonesia di tengah gempuran berbagai ideologi asing yang menyesatkan, menjarah dan merusak negara-bangsa. Di setiap negara bangsa (nation state) pasti punya pengalaman mengkonservasi nilai, identitas, serta jati diri kebangsaannya. Proses mengkonservasi itu selalu berupa langkah besar yang kemudian menjadi gerakan besar suatu bangsa, hasil dialektika dengan kondisi aktual di sekitarnya. Gerakan-gerakan perubahan lahir akibat adanya persoalan kebangsaan. Bangsa Eropa mampu keluar dari Abad Kegelapan setelah melakukan gerakan besar Aufklarung. Demikian juga gerakan Restorasi Meiji di Jepang yang hadir di tengah situasi politik yang memburuk akibat politik militer feodal Tokugawa dan ancaman pengaruh Barat yang semakin menguat. Gerakan Restorasi Meiji mengkombinasikan dimensi kesejarahan dalam konteks kejayaan kaisar masa lalu dengan kekuatan ‘samurai muda’ yang mendambakan cita-cita masa depan Jepang yang cerah. Kita bisa lihat dalam film Rouroni Kenshin 1-3.

Panggung pertarungan pemuda terkini adalah menguasai informasi dari banjir bandang globalisasi, menempatkannya untuk kepentingan nasional. Sun Tzu miliknya orang Cina yang saat ini merajai dunia, berkata,” Know yourself, and know the enemy, and you will not be peril”. Sedangkan leluhur orang Barat berujar“ Hukum moral dalam hatinya / Coellum stellatum supra me, lex moralis intra me” sebuah tulisan yang ada di kuburan Immanuel Kant. Tapi yang lebih canggih, ngeri adalah wasiat Maha gurunya pemuda Soekarno, HOS Cokroaminoto yang berpesan untuknya, kepada para pemuda, jadi embrio dan ruh pergerakan Kemerdekaan bangsa, hingga kini kita bisa ngopi dan karaoke. “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid dan sepintar-pintar siasat,” demikian petuahnya untuk memikirkan bangsa dan menggerakan negara.

Dalam posisi apa kita menghormati leluhur pemuda kita? Sudah saatnya apresiasi dan penghormatan untuk menyambung kembali Sumpah Pemuda saat ini, bukan dengan merampok kekayaan negeri, apalagi bersatu dan menyatu dengah anak cucunya Nixon Amerika-Inggris. Cita-cita kita sekarang layak ditujukan kepada ‘pemuda nakal’ yang berani memerdekakaan bangsanya yang terjajah dan terjarah. Kontribusi sejarah masa kini pemuda belia, meski pemuda itu bisa jadi adalah peminum bir serta penikmat McDonald, KFC dan pecinta Pizza Hut yang nikmat katanya sih. Tetaplah jadi tanggung-jawab kita, karena mereka sejatinya ‘anak yatim’ terpisah dari Islam dan kesadaran sejarah Indonesia. Fa’amal Yatima falaa Taqhar, Wa Amma Saaila Falaa Tanhar, Adapun anak yatim, janganlah engkau membentaknya, dan orang yang meminta-minta jangan engkau menghardiknya. Itulah posisi negaramu, bangsamu.

Untuk pemuda yang sudah lelah menyeret gerbong Kapitalisme, seirama jam kerja pagi hingga malam. Untuk pemuda yang takkan pernah lelah hadapi Kapitalisme hingga detik ini, tulisan ini ngga’ diberikan sebagai hal-hal praktis dan operasional, melainkan sekedar suatu kerangka konsepsional terkait tanggung jawab pemuda sebagai sang sejarah. Bukan juga suatu paparan ilmiah, tetapi pertanggung-jawaban bahwa pemuda sebagai intelektual memang punya tanggung jawab besar.

Dan sikap apatis, emoh negara, pasif, datar, hambar, dan netral terhadap masalah bangsa yang terjajah sepanjang masa, bukanlah watak asli pemuda, sebagai intelektual bangsa. Renungilah ayat al-Qur’an, Fainna ma’al ‘usri yusra, Inna ma’al ‘usri yusra. Libatkanlah dirimu dalam kelelahan-kelelahan beramal shaleh yang sesungguhnya demi bangsamu. Janganlah pemuda cenderung kepada hidup santai-santai, sebab itulah musuhmu, musuh terbesar hidup kita. Menantu Kanjeng Nabi Muhammad Rasulullah Saw, Sayyidina Ali bin Abi Thalib as berkata,”Orang-orang utama dan mulia disiapkan untuk saat-saat sulit”. Pemuda Indonesia adalah yang ditempa pertempuran dan peperangan hidup, akrab dan gaul dengan-Nya.

Titik point Sumpah Pemuda kini adalah menjalankan Syair Nahdlatul Wathon dari pemuda bernama Kiai Wahab Hasbullah biar tetap macho, seksi dan maksimal ikhtiar berbuat untuk negara-bangsa, sampai nanti, sampai mati. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa: Tanah Air Indonesia.“ Wahai bangsaku, wahai bangsaku, cinta tanah air bagian dari iman. Jangan kalian jadi orang terjajah. Wahai bangsaku yang berfikir jernih, dan halus perasaaan. Kobarkan semangat, jangan jadi pembosan”.[]

ditulis oleh: Dinno Munfaidzin Imamah (PEMIKIR MUDA NU-UIN SYARIF HIDAYATULLAH PENULIS BUKU SIASAT NU & MODIFIED CAPITALISME: PERLAWANAN-DO’A)

Ikuti kami di instagram @militerysindonesia

Artikel Terkait