Saat ini masih ada sekitar 200 bom nuklir milik AS yang ditempatkan di Belgia, Italia, Belanda, Jerman, dan Turki. Arsenal nuklir ini juga menjadi alasan untuk merenovasi program triad nuklir Rusia. Demikian hal ini dinyatakan Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu.
Triad nuklir mengacu pada pengiriman senjata nuklir dari senjata nuklir strategis yang terdiri dari tiga komponen, pengebom tradisional strategis, rudal balistik antarbenua (ICBM), dan rudal balistik kapal selam (SLBM). Tujuan memiliki tiga cabang kemampuan nuklir ini adalah untuk mengurangi secara signifikan kemungkinan bahwa musuh bisa menghancurkan semua kekuatan nuklir suatu negara dalam serangan pertama.
“Sebanyak 51 persen perangkat yang dipakai triad nuklir berbasis darat telah diperbarui. Pada tahun 2015, triad nuklir bagian udara dilengkapi dengan sepuluh pesawat baru, yaitu dua Tu-160, tiga Tu-95MS, dan lima Tu-22M3. Dua kapal selam rudal, Alexander Nevsky dan Vladimir Monomakh, kini telah masuk ke angkatan bersenjata Rusia. Tentara Rusia telah mendapatkan 35 rudal. Dengan demikian, triad nuklir Rusia dilengkapi dengan 55 persen perangkat moden,” tutur Shoigu.
Triad nuklir mengacu pada pengiriman senjata nuklir dari senjata nuklir strategis yang terdiri dari tiga komponen, pengebom tradisional strategis, rudal balistik antarbenua (ICBM), dan rudal balistik kapal selam (SLBM). Tujuan memiliki tiga cabang kemampuan nuklir ini adalah untuk mengurangi secara signifikan kemungkinan bahwa musuh bisa menghancurkan semua kekuatan nuklir suatu negara dalam serangan pertama.
“Sebanyak 51 persen perangkat yang dipakai triad nuklir berbasis darat telah diperbarui. Pada tahun 2015, triad nuklir bagian udara dilengkapi dengan sepuluh pesawat baru, yaitu dua Tu-160, tiga Tu-95MS, dan lima Tu-22M3. Dua kapal selam rudal, Alexander Nevsky dan Vladimir Monomakh, kini telah masuk ke angkatan bersenjata Rusia. Tentara Rusia telah mendapatkan 35 rudal. Dengan demikian, triad nuklir Rusia dilengkapi dengan 55 persen perangkat moden,” tutur Shoigu.
“Situasi politik dan militer dunia terus memperburuk, khususnya di Eropa, Asia Tengah, dan Timur Tengah. Kami juga bisa melihat NATO terus memperluas — dalam waktu cukup singkat, jumlah anggota NATO naik dua kali lipat karena diterimanya 12 negara baru ke dalam NATO.”
AS berhasil melakukan uji coba peluncuran rudal SM-3 pada Kamis 10 Desember 2015. SM-3 merupakan rudal pertama yang diluncurkan dari situs darat untuk mencegat rudal balistik musuh sebagai bagian dari rencana perisai rudal Amerika di Eropa, demikian hal tersebut disampaikan oleh Badan Pertahanan Rudal AS.
“Badan Pertahanan Rudal dan Badan Uji Coba Operasional Sistem Pertahanan Rudal Balistik bersama dengan Komando Pasifik AS, Komando Eropa AS, dan Komando Gabungan Komponen Fungsional Pertahanan Rudal Terpadu hari ini berhasil melakukan uji coba peluncuran rudal pencegat SM-3 yang pertama dari sistem Pertahanan Rudal Balistik Aegis, yang diluncurkan dari Kauai, Hawaii.” Uji coba Rudal SM-3 diluncurkan dari markas militer AS di Hawaii untuk mencegat rudal balistik udara tiruan di atas Samudera Pasifik.
Pemerintah AS telah berulang kali menekankan bahwa rencana pertahanan rudal mereka tidak ditujukan kepada Rusia melainkan untuk memberikan perlindungan terhadap ancaman rudal dari Iran dan Korea Utara. Moskow, bagaimanapun, menyatakan kekhawatirannya bahwa apa yang disebut AS sebagai pendekatan adaptif dengan penyebaran sistem pertahanan rudal AS di Eropa mengancam pasukan strategis Rusia dan melemahkan potensi nuklir Rusia.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya mengatakan bahwa pasukan Rusia akan mengambil langkah balasan jika pertahanan rudal Amerika Serikat dianggap mengancam.
AS berhasil melakukan uji coba peluncuran rudal SM-3 pada Kamis 10 Desember 2015. SM-3 merupakan rudal pertama yang diluncurkan dari situs darat untuk mencegat rudal balistik musuh sebagai bagian dari rencana perisai rudal Amerika di Eropa, demikian hal tersebut disampaikan oleh Badan Pertahanan Rudal AS.
“Badan Pertahanan Rudal dan Badan Uji Coba Operasional Sistem Pertahanan Rudal Balistik bersama dengan Komando Pasifik AS, Komando Eropa AS, dan Komando Gabungan Komponen Fungsional Pertahanan Rudal Terpadu hari ini berhasil melakukan uji coba peluncuran rudal pencegat SM-3 yang pertama dari sistem Pertahanan Rudal Balistik Aegis, yang diluncurkan dari Kauai, Hawaii.” Uji coba Rudal SM-3 diluncurkan dari markas militer AS di Hawaii untuk mencegat rudal balistik udara tiruan di atas Samudera Pasifik.
Pemerintah AS telah berulang kali menekankan bahwa rencana pertahanan rudal mereka tidak ditujukan kepada Rusia melainkan untuk memberikan perlindungan terhadap ancaman rudal dari Iran dan Korea Utara. Moskow, bagaimanapun, menyatakan kekhawatirannya bahwa apa yang disebut AS sebagai pendekatan adaptif dengan penyebaran sistem pertahanan rudal AS di Eropa mengancam pasukan strategis Rusia dan melemahkan potensi nuklir Rusia.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya mengatakan bahwa pasukan Rusia akan mengambil langkah balasan jika pertahanan rudal Amerika Serikat dianggap mengancam.
“Jika persenjataan nuklir strategis AS yang terletak di Eropa dinilai menimbulkan ancaman bagi Rusia, kami akan mengambil langkah-langkah balasan yang sesuai,” kata Putin. “Kami akan memiliki target baru di Eropa.”
Selain itu, Putin juga menyampaikan bahwa proposal kerja sama Washington untuk Rusia di bidang pertahanan rudal dinilai tidak masuk akal. Dalam proposal tersebut, Rusia diminta memberikan rudalnya sebagai sebagai praktek sasaran.
“Mitra Amerika kami ingin Rusia menyediakan rudal sebagai sasaran, sehingga mereka dapat melakukan latihan dengan menggunakan rudal kami. Ini benar-benar ide brilian yang pernah terpikirkan oleh mereka,” demikian dilansir Sputnik News mengutip perkataan Putin.
Sumber: RBTH
Selain itu, Putin juga menyampaikan bahwa proposal kerja sama Washington untuk Rusia di bidang pertahanan rudal dinilai tidak masuk akal. Dalam proposal tersebut, Rusia diminta memberikan rudalnya sebagai sebagai praktek sasaran.
“Mitra Amerika kami ingin Rusia menyediakan rudal sebagai sasaran, sehingga mereka dapat melakukan latihan dengan menggunakan rudal kami. Ini benar-benar ide brilian yang pernah terpikirkan oleh mereka,” demikian dilansir Sputnik News mengutip perkataan Putin.
Sumber: RBTH


