![]() |
| Roket Epsilon. Ibtimes.com |
Roket terbaru Jepang gagal lepas landas pada Selasa, 27 Agustus 2013. Kegagalan itu menjadi "pukulan" kedua terhadap roket Epsilon bulan ini. Peluncuran sebelumnya ditunda karena kesalahan komputer. Tidak ada keterangan terkait penyebab masalah peluncuran pada hari Selasa serta kapan percobaan peluncuran selanjutnya.
Hitungan mundur di pusat peluncuran Uchinoura, Jepang, disiarkan langsung melalui Internet, dengan komentar dalam bahasa Inggris serta Jepang. Namun, tidak ada yang terjadi pada akhir hitungan mundur itu.
JAXA, badan antariksa Jepang, kemudian mengatakan peluncuran dihentikan 19 detik menjelang lepas landas. Media Jepang mengatakan ada sebuah "ketidakteraturan" telah terdeteksi.
Roket tiga tahap Epsilon, mengambil nama dari huruf kelima alfabet Yunani, memiliki tinggi 24,4 meter, sekitar setengah ukuran roket H2A Jepang. Beratnya 91 ton dan telah disebut-sebut sebagai roket alternatif baru yang murah.
Roket itu dijadwalkan untuk membawa sebuah teleskop ke ruang angkasa untuk pengamatan tata surya. Para analis mengatakan tidak jelas dampak kegagalan peluncuran itu terhadap ambisi Jepang untuk ikut bermain di industri peluncuran satelit internasional. "Ini adalah penerbangan pertama dan sudah ditunda sekali dan sekarang akan ditunda lagi," kata Yukihiro Kumagai, seorang analis di Jefferies & Co sekurities di Tokyo.
"Tak pelak lagi, hal ini akan menimbulkan beberapa pertanyaan. Tapi secara keseluruhan ini tidak mungkin berpengaruh banyak," katanya. Menurut dia, Epsilon tidak dijadwalkan untuk penerbangan lain sampai 2015.
Ukuran Epsilon yang lebih kecil dan sebuah sistem komputer yang memungkinkannya untuk melakukan pemeriksaan sistem sendiri menyebabkan roket ini dapat dirakit dengan cepat sehingga diharapkan dapat memotong biaya personel dan peralatan.
Kendali peluncuran yang dapat dilakukan dengan menggunakan komputer desktop konvensional sangat mengurangi biaya dan membuat peluncuran lebih mobile karena peluncuran bisa dilakukan di lebih banyak tempat.
Perusahaan-perusahaan AS memonopoli bisnis peluncuran komersial 30 tahun yang lalu, tapi cengkeramannya semakin menurun, dengan sebagian besar bisnis beralih ke Arianespace yang berpusat di Prancis. Perusahaan kemitraan publik-swasta Eropa itu melaporkan pendapatan 1,3 miliar euro pada tahun 2012.
Pasar telah terguncang dengan masuknya Space Exploration Technologies berpusat di California, SpaceX, baru-baru ini. Rusia juga memasarkan berbagai roket untuk peluncuran ruang angkasa. Sementara pesawat Soyuz menjadi satu-satunya kendaraan yang membawa awak ke ISS sejak pesawat ulang-alik AS pensiun pada tahun 2011. India dan Cina juga menyediakan jasa peluncuran sampai batas tertentu.
Sumber : Tempo
